Rabu, 12 Juni 2013

Syariat Thoriqoh Hakikat

.
Terminologi Syariat, Thariqat dan Hakikat sangat kental dalam tradisi Tasawuf. Al-Qusyairy menyebutkan, misalnya, bahwa Syariat itu adalah disiplin Ubudiyah, sedangkan Hakikat adalah penyaksian Rububiyah. Setiap Syariat yang tidak dikokohkan oleh Hakikat, tidak bisa diterima. Sebaliknya Hakikat yang tidak didukung Syariat, juga tidak akan berhasil.
Syeijh Abu Ali ad-Daqqaq, guru al-Qusyairy menjelaskan, “Syariat adalah “IyyaKa Na’budu” sedangkan Hakikat adalah “IyyaaKa Nasta’in”.
Syariat itu sendiri adalah Hakikat jika dilihat bahwa Syariat adalah suatu keharusan menjalankan perintah-perintah-Nya, begitu juga, Hakikat itu adalah Syariat dari segi ma’rifat-ma’rifat kepadaNya, karena perintahNya itu sendiri.
Dalam penjelasan salah satu wacana pertama dari Al-Hikam, yang menjadi panduan gerakan Thariqat Syadziliyah, Ahmad bin Muhammad Ajibah al-Hasany mengatakan,  bahwa amal itu terbagi menjadi tiga:
  1. Amal Islam
  2. Amal Iman
  3. Amal Ihsan
Atau:
  1. Amal Ibadah
  2. Amal Ubudiyah
  3. Amal Abudah
Atau:
  1. Amal ahli bidayah
  2. Amal ahli wasath
  3. Amal ahli nihayah
Atau:
Syariat itu, hendaknya engkau menyembahNya, Tharikat hendaknya engkau menuju kepadaNya dan Hakikat hendaknya engkau menyaksikanNya.
Syariat itu untuk mendidik aspek-aspek lahiriyah, Thariqat itu untuk memperbaiki hal-hal batiniyah, sedangkan Hakikat itu untuk memperbaiki rahasia-rahasia batiniyah.
Mendidik aspek-aspek lahiriyah melalui tiga hal: Taubat, Taqwa dan Istiqomah. Mendidik hati melalui tiga hal pula: Ikhlas, Jujur dan Thuma’ninah. Sedangkan mendidik rahasia batin melalui tiga hal pula: Muroqobah, Musyahadah dan Ma’rifat.
Dari segi amaliyah di sini, adalah amaliyah yang mengupayakan penyucian raga, jiwa dan arwah. Sementara pengetahuan dan kema’rifatan sebagai buah dari penjernihan dan penyucian tersebut. Apabila rahasia-rahasia batin telah bersih dan suci, akan dipenuhi dengan pengetahuan dan kema’rifatan, serta cahaya-cahaya.
Jadi pendekatan epistemologi Sufistik menurut Thariqat Syadziliyah, adalah bahwa munculnya amal perbuatan hamba Allah itu bukan karena ilmu pengetahuan. Tetapi ilmu pengetahuan itu justru sebagai akibat dan buah dari amaliyah hamba Allah itu sendiri. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar