HADLRATUS SYAIKH MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI Sebuah Catatan Mengenai Ketegasan Seorang
Pejuang Aswaja
Penganut,
Pengamal dan Pejuang Aswaja
KH
Muhammad Hasyim Asy’ari (Lahir 1287 H/1871 M, Wafat 1366 H/1947) adalah
salah seorang ulama besar Indonesia. Selain belajar kepada para ulama pesantren
di Indonesia, seperti KH Kholil Bangkalan, KH Ya’qub Siwalan dan lainnya,
beliau juga menimba ilmu dari para ulama sunni di Makkah seperti Syekh Sa’id al
Yamani, Sayyid Husein al Habsyi, Syekh Bakr Syatha, Sayyid Alawi bin Ahmad
as-Saqqaf, Syekh Shalih Bafadhl, Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi, Syekh
Muhammad Nawawi al Bantani, Syekh Ahmad Khathib al Minangkabawi, Syekh Syu’aib
bin Abdurrahman al Maghribi dan lainnya.
Sebagaimana
guru-guru beliau, KH Hasyim Asy’ari adalah penganut ajaran Ahlussunnah Wal
Jama’ah, bahkan kemudian menjadi tokoh pejuang Ahlussunnah paling terkemuka di
Indonesia.[1]
KH
Hasyim Asy’ari menegaskan akidah tanziih[2]; bahwa Allah tidak
menyerupai sesuatu-pun di antara makhluk-Nya, Allah bukan jism dan maha
suci dari sifat-sifat jism, maha suci dari arah, masa dan tempat. Beliau
menjelaskan kebolehan bertawassul dengan adz-Dzawaat al Faadhilah,
seperti para nabi, Ahl al bayt dan para wali, baik ketika mereka masih
hidup ataupun sesudah meninggal, bahkan beliau sendiri sering bertawassul dalam
karya-karyanya. Beliau juga menegaskan bahwa melakukan safar untuk ziarah ke
makam Nabi termasuk sunnah yang disepakati oleh ummat Islam dan qurbah
(perbuatan taat) yang sangat agung dan memiliki keutamaan yang sangat
dianjurkan. Beliau juga menganjurkan agar peziarah bertabarruk dengan melihat Raudlah
dan Mimbar Nabi.[3]
KH
Hasyim Asy’ari juga menegaskan kewajiban bermadzhab bagi seseorang yang bukan
mujtahid mutlak meskipun telah memenuhi sebagian syarat-syarat ijtihad. Madzhab
yang bisa diikuti pada dasarnya adalah madzhab siapa-pun asalkan pendirinya
adalah seorang mujtahid mutlak, karena memang para ulama mujtahid mutlak bukan
hanya pendiri madzhab empat, seperti Sufyan ats-Tsawri, Sufyan ibn ‘Uyainah,
Ishaq ibn Ra-hawaih dan lainnya, namun KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa
sekelompok ulama madzhab Syafi’i menyatakan tidak boleh bertaklid kepada selain
imam madzhab empat karena beberapa alasan teknis. Oleh karenanya orang yang
keluar dari madzhab empat di zaman sekarang termasuk kelompok ahli bid’ah (Mubtadi’ah).[4]
Dalam
menyikapi perbedaan (ikhtilaf) antara empat madzhab dan perbedaan dalam
intern madzhab Syafi’i, KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa hal tersebut sah-sah
saja. Sudah maklum bahwa ikhtilaf dalam furu’ itu telah terjadi
di kalangan para sahabat Rasulullah dan mereka tidak pernah saling menyesatkan.
Begitu pula antara imam Abu Hanifah dan imam Malik misalnya, telah terjadi
perbedaan pendapat dalam sekitar 4000 masalah fiqh ibadah dan mu’amalah, juga
antara imam Ahmad bin Hanbal dan imam Syafi’i. Demikian pula terjadi perbedaan
pendapat antara para ulama dalam intern madzhab Syafi’i, antara Syakhay al
Madzhab; ar-Rafi’i dan an-Nawawi, Ahmad ibnu Hajar al Haytami dan Muhammad
ar-Ramli dan para pengikut mereka. Mereka tidak pernah saling membenci,
bermusuhan, iri dengki. Sebaliknya mereka tetap saling mencintai dan bersaudara
dengan tulus.[5]
KH
Hasyim Asy’ari juga mengikuti mayoritas ulama yang membagi bid’ah menjadi
bid’ah wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Beliau menegaskan bahwa
menggunakan tasbih, melafalkan niat (membaca Ushalli), talqin mayit,
sedekah untuk mayit, tahlilan, ziarah kubur dan semacamnya adalah bid’ah
hasanah bukan bid’ah sayyi-ah. [6]
Siapakah
salafi dan ahli bid’ah ?
Menurut
KH Hasyim Asy’ari, Salafi (Salafiyyun) di Indonesia adalah orang-orang
yang mengikuti dan melestarikan cara beragama dan ajaran-ajaran para pendahulu
yang membawa Islam ke tanah Jawa. Salafi (Salafiyyun) adalah para
pengikut madzhab Syafi’i dalam fiqih, madzhab al Imam al Asy’ari dalam
ushuluddin dan madzhab al Ghazali dan Abu al Hasan asy-Syadzili dalam tasawwuf.
Mereka adalah orang-orang yang mengikuti sistem bermadzhab dengan madzhab tertentu,
berpegang dengan kitab-kitab yang beredar dan diakui di kalangan para ulama,
mencintai Ahl al Bayt, para wali dan orang-orang saleh, bertabarruk
dengan mereka ketika masih hidup atau sudah meninggal, berziarah kubur,
melakukan talqin al mayyit, bersedekah untuk mayit, meyakini adanya
syafa’at, meyakini manfaat doa, tawassul dan semacamnya.
Sistem
bermadzhab adalah sistem yang sudah berlangsung dari masa para sahabat.
Terbukti, di masa para sahabat terdapat orang-orang awam yang meminta fatwa
para ulama mujtahid di kalangan mereka dan mengikuti fatwa-fatwa hukum mereka.
Para ulama sahabatpun menjawab berbagai pertanyaan mereka tanpa menyebutkan
dalil, dan para ulama sahabat tersebut tidak melarang orang awam mengamalkan
ajaran agama dengan cara seperti itu. Ini artinya bahwa para sahabat sepakat (ijma’)
bahwa orang awam harus mengikuti mujtahid sesuai dengan firman Allah ta’ala:
فاسئلوا
أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
“Maka
tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui”.
(Q.S. al Anbiya’: 7)
Dan
inilah sebetulnya hakekat dan praktek taqlid.
Para
pelaku bid’ah (al Mubtadi’un) muncul di Indonesia pada sekitar tahun
1330 H. Ahli bid’ah tersebut menurut KH Hasyim Asy’ari terbagi ke beberapa
kelompok sebagai berikut[7]:
1.
Para pengikut Muhammad Abduh, Rasyid
Ridla, Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, Ahmad ibn Taimiyah dan kedua
muridnya, Ibnu al Qayyim dan Ibnu Abd al Hadi
2.
Kelompok Rafidlah
3.
Kelompok Ibahiyyun
4.
Para Penganut Paham Reinkarnasi
5.
Para
Penganut Paham Hulul dan Ittihad
Pokok-pokok
Ajaran Golongan Yang Dikategorikan Ahli Bid’ah
1.
Pengikut Muhammad Abduh, Rasyid Ridla, Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi,
Ahmad ibn Taimiyah dan kedua muridnya Ibnu al Qayyim dan Ibnu Abd al Hadi
Rasyid
Ridla dan gurunya, Muhammad Abduh mempunyai beberapa pemikiran sebagai berikut[8]:
·
Mencela para ulama dan menyatakan
tidak boleh taqlid kepada mereka.
·
Dianjurkan kepada siapa saja untuk
melakukan ijtihad tanpa ada kriteria-kriteria tertentu.
·
Daging babi boleh dimakan jika
direbus dalam air yang sangat mendidih sehingga kuman dan bakteri yang ada di
dalamnya mati.
·
Menafsirkan malaikat dengan makna
“kekuatan alam” (al-Quwaa ath-Thabii’iyyah).
·
Menafsirkan jin dengan makna
“bakteri dan kuman” (al-Mikruubaat).
·
Mendukung teori Darwin yang
menyatakan bahwa asal manusia dari kera.
Oleh
karena pemikiran-pemikirannya yang menyimpang, Rasyid Ridla dicela dan dibantah
oleh banyak ulama, di antaranya syekh Yusuf an-Nabhani, syekh Yusuf ad-Dajawi,
al-Muhaddits syekh ‘Abdullah al-Ghumari dan lain-lain. Bahkan syekh Yusuf
an-Nabhani pernah menulis tentang Rasyid Ridla sebagai berikut:
وأما رشيد
ذو المنار فإنه أقلهم عقلا وأكثرهم شرا
“Adapun
Rasyid Ridla, penulis al-Manar sesungguhnya ia
Orang
yang paling picik pikirannya dan paling banyak kesesatannya”
Sedangkan
golongan Wahhabi adalah pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab an-Najdi (W. 1206
H). Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya yang mengkafirkan penduduk
Mesir, Irak dan sekitarnya, Syam, Hijaz dan Yaman [9] memiliki
ajaran-ajaran sebagai berikut:
·
Menyerupakan Allah dengan
makhluk-Nya dan meyakini bahwa Allah duduk atau bersemayam di atas Arsy.
·
Mengkafirkan dan memusyrikkan orang
yang bertawassul dengan nabi atau wali yang sudah meninggal atau tidak hadir di
hadapan orang yang bertawassul.
·
Memusyrikkan orang yang mengalungkan
Hiriz.
·
Memusyrikkan para pengikut madzhab
empat.
·
Menyesatkan Tasawwuf dan Tarekat
Oleh
karenanya ketika golongan Wahhabi menyerbu kota Tha-if, mereka membunuh
semua orang, tua-muda, besar-kecil, rakyat dan para pejabat. Mereka menyembelih
anak yang sedang menyusu ibunya, merampas harta dan menawan para wanita,[10]
karena mereka menganggap penduduk Hijaz kafir musyrik.
Para
ahli fiqh, hadits, tafsir serta para sufi di segenap penjuru dunia Islam telah
menulis banyak sekali (lebih dari seratus) risalah-risalah kecil atau buku-buku
khusus untuk membantah Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Di
antaranya adalah Syekh Ahmad ash-Shawi al Maliki (W. 1241 H), Syekh Ibnu
'Abidin al Hanafi (W. 1252 H), Syekh Muhammad ibn Humaid (W. 1295 H), mufti
Madzhab Hanbali di Makkah al Mukarramah, Syekh Ahmad Zaini Dahlan (W. 1304 H),
mufti madzhab Syafi’i di Makkah al Mukarramah dan ulama lainnya.
2.
Kelompok Rafidlah
Mereka
adalah golongan yang mencela sayyidina Abu Bakr dan Umar serta membenci seluruh
sahabat Nabi kecuali sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka melampaui batas
dalam mencintai sayyidina ‘Ali dan ahlul bait. Sebagian dari mereka bahkan
masuk kategori kafir dan zindiq.
3.
Kelompok Ibahiyyun
Mereka
adalah golongan yang menyatakan bahwa seorang hamba yang sudah sampai derajat
tertinggi dalam kecintaan kepada Allah, telah suci dan jernih hatinya serta
telah tertanam kuat keimanan dalam kalbunya, maka gugur (tidak berlaku) baginya
perintah dan larangan Allah. Dan Allah tidak akan memasukkannya ke dalam neraka
dengan sebab perbuatan dosa besar yang ia lakukan. Sebagian dari mereka
menyatakan, hamba tersebut gugur baginya ibadah-ibadah yang zhahir, dan
ibadahnya hanya berupa merenung dan memperbaiki perilaku yang bathin. Paham
seperti ini, menurut Sayyid Muhammad Murtdla az-Zabidi dalam Syarh Ihyaa’
Uluumiddiin sebagaimana dikutip mbah Hasyim dalam Risaalah Ahlissunnah
wal Jamaa’ah, hlm. 11, adalah kekufuran, kezindikan dan kesesatan.
4.
Para Penganut Paham Reinkarnasi
Mereka
adalah golongan yang meyakini reinkarnasi roh dan berpindahnya roh selamanya
dari satu badan ke badan yang lain; disiksa atau memperoleh kenikmatan sesuai
dengan suci atau kejinya roh tersebut. Paham seperti ini jelas adalah
kekufuran.
5.
Para Penganut Paham Hulul dan Ittihad
Mereka
adalah kaum shufi gadungan (Jahalah al-Mutashawwifah). Mereka
berkeyakinan bahwa tiada yang ada kecuali Allah; Allah adalah keberadaan mutlak
dan segala sesuatu selain-Nya tidak disifati dengan keberadaan sama sekali.
Paham ini, menurut al-‘Allamah al-Amir dalam Hasyiyah ‘Abdissalam
sebagaimana dikutip mbah Hasyim, adalah kekufuran yang nyata.
KH
Hasyim Asy’ari juga menegaskan bahwa madzhab Imamiyyah dan Zaidiyyah adalah
madzhab para ahli bid’ah dan tidak boleh berpegang dengan pendapat-pendapat
mereka.[11]
Setelah
menjelaskan tentang berbagai golongan dan ajaran-ajaran yang menyimpang
tersebut, KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa kebenaran berada pada golongan Salafi
tersebut yang mengikuti jalan para salaf salih karena mereka-lah
mayoritas ummat Muhammad, dan merekalah yang ajarannya sesuai dengan para ulama
sunni yang ada di Haramain dan ulama al Azhar asy-Syarif yang
merupakan teladan ahlul haqq. Mereka terdiri dari para ulama yang tersebar di
seluruh penjuru dunia yang sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya.
KH
Hasyim Asy’ari juga sangat berempati terhadap ulama-ulama Makkah yang sempat
terusir dari Makkah sekitar tahun 1343 H, seperti guru beliau ketika di Makkah,
Syekh Sa’id bin Muhammad al Yamani asy-Syafi’i, Syekh Abdul Hamid Sunbul Hadidi
al Hanafi, Syekh Hasan bin Sa’id al Yamani, Syekh Muhammad Ali bin Sa’id al
Yamani. Mereka sempat mengungsi ke Gresik, Jawa Timur karena gangguan dan
intimidasi Wahhabi terhadap para mukimin di sekitar Masjid al Haram.[12]
Faktor-faktor
Penyebab Munculnya Penyimpangan
Di
antara penyebab muncul dan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam Islam
menurut KH Hasyim Asy’ari[13] adalah:
1.
Tidak Menguasai seluk beluk bahasa Arab dan berbagai gaya bahasa (Asaalib)
dalam bahasa Arab
KH
Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa sekian banyak orang tersesat dari jalan
yang benar dikarenakan mengikuti pemahaman orang-orang yang tidak memiliki
pengetahuan yang cukup tentang berbagai gaya bahasa dalam bahasa arab. Beliau
menyatakan: “Al Ashmu’i meriwayatkan dari al Khalil dari Abu ‘Amr ibn al
‘Ala-‘, ia berkata:
"أَكْثَرُ مَنْ تَزَنْدَقَ بِالعِرَاقِ لِجَهْلِهِمْ
بِالعَرَبِـيَّةِ".
“Kebanyakan
orang yang Zindik di Irak disebabkan kebodohan mereka tentang bahasa
Arab."
2.
Tidak Memiliki Perangkat Keilmuan yang Cukup
Ketika
menjelaskan kewajiban bermadzhab bagi orang awam, KH Hasyim Asy’ari menjelaskan
bahwa pemahaman orang awam tidak diperhitungkan sama sekali, selama tidak
sesuai dengan pemahaman para ulama Ahlul Haqq al Akabir al Akhyar.
Karena
sesungguhnya masalah bukan berada pada teks-teks al Qur’an atau-pun
hadits-hadits yg shahih, melainkan terletak pada pemahaman yang keliru terhadap
teks-teks tersebut. Oleh karenanya, setiap ahli bid’ah dan orang yang
tersesat-pun mengaku memahami ajaran-ajaran mereka yang batil dari al Kitab
dan as-Sunnah,tetapi itu tidak menyelamatkan mereka dari kesalahan.
Demikian
penting kaedah ini untuk diikuti dan diamalkan, sehingga KH Hasyim Asy’ari
menegaskan bahwa seseorang yang bukan mujtahid mutlak diharuskan bertaklid
kepada salah satu madzhab empat dan tidak boleh memahami sendiri dan beristidlal
langsung dari ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi.
Identifikasi
Beberapa Kesesatan Dan Kekufuran
KH
Hasyim Asy’ari, dengan mengutip dari beberapa ulama mengidentifikasi berbagai
keyakinan dan ajaran yang menyimpang dan mengeluarkan seseorang dari Islam.
Beliau menyatakan:[14]
"قَالَ القَاضِي عِيَاضٌ فِي الشِّفَا: إِنَّ
كُلَّ مَقَالَـةٍ صَرَّحَتْ بِنَفْيِ الرُّبُـوْبِـيَّةِ أَو
الوَحْدَانِيَّةِ أَوْ عِبَادَةِ غَيْرِ اللهِ أَوْ مَعَ
اللهِ فَهِيَ كُفْرٌ كَمَقَالَةِ الدَّهْرِيَّةِ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوْسِ
وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُوْا بِعِبَادَةِ الأَوْثَانِ أَوْ الْمَلاَئِكَةِ
أَو الشَّيَاطِيْنِ أَو الشَّمْسِ أَو النُّجُوْمِ أَو النَّارِ
أَوْ أَحَدٍ غَيْرِ اللهِ. وَكَذلِكَ أَصْحَابُ الْحُلُوْلِ وَالتَّـنَاسُخِ،
وَكَذلِكَ مَنْ اعْـتَرَفَ بِإِلـهِيَّةِ اللهِ وَوَحْدَانِـيَّتِهِ
وَلكنَّهُ اعْتَـقَدَ أَنَّهُ غَيْرُ حَيٍّ أَوْ غَيْرُ قَدِيْمٍ أَوْ
أَنَّهُ مُحْدَثٌ أَوْ مُصَوَّرٌ، أَوْ ادَّعَى لَهُ وَلَدًا
أَوْ صَاحِبَةً، أَوْ أَنَّهُ مُتَوَلِّدٌ مِنْ شَىْءٍ أَوْ كَائِنٌ
عَنْهُ، أَوْ أَنَّ مَعَهُ فِي الأَزَلِ شَيْئًا قَدِيْمًا غَيْرَهُ،
أَوْ أَنَّ ثَمَّ صَانِعًا لِلْعَالَمِ سِوَاهُ أَوْ مُدَبِّرًا غَيْرَهُ،
فَذلِكَ كُلُّهُ كُفْرٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَكَذلِكَ مَن
ادَّعَى مُجَالَسَةَ اللهِ تَعَالَى وَالعُرُوْجَ إِلَيْهِ وَمُكَالَمَتَهُ
أَوْ حُلُوْلَهُ فِي أَحَدِ الأَشْخَاصِ كَقَوْلِ بَعْضِ الْمُتَصَوِّفَـةِ
وَالبَاطِـنِيَّةِ وَالنَّصَارَى، وَكَذلِكَ نَقْطَعُ عَلَى
كُفْرِ مَنْ قَالَ بِقِدَمِ العَالَمِ أَوْ بَقَائِـهِ، أَوْ قَالَ بِتَـنَاسُخِ
الأَرْوَاحِ وَانْتِـقَالِهَا أَبَدَ الآبَـادِ فِي الأَشْخَاصِ
وَتَعْذِيْـبِهَا وَتَنْعِيْمِهَا بِحَسَبِ زَكَائِهَا وَخُبْثِهَا،
وَكَذلِكَ مَنْ اعْـتَرَفَ بِالإِلـهِيَّةِ وَالوَحْدَانِـيَّةِ
وَلكِنَّهُ حَجَدَ النُّـبُوَّةَ مِنْ أَصْلِهَا عُمُوْمًا أَوْ نُـبُوَّةَ
نَبِيِّـنَا خُصُوْصًا، أَوْ أَحَدًا مِنَ الأَنْـبِيَاءِ الَّذِيْنَ
نَصَّ اللهُ عَلَيْهِمْ بَعْدَ عِلْمِهِ بِذلِكَ فَهُوَ كَافِرٌ بِلاَ
رَيْبٍ، وَكَذلِكَ مَنْ قَالَ إِنَّ نَبِيَّـنَا لَيْسَ الَّذِي كَانَ
بِمَكَّةَ وَالْحِجَازِ، وَكَذلِكَ مَن ادَّعَى نُـبُوَّةَ أَحَدٍ مَعَ
نَبِيِّـنَا r أَوْ بَعْدَهُ أَوْ مَن
ادَّعَى النُّـبُوَّةَ لِنَفْـسِهِ، وَكَذلِكَ مَن ادَّعَى مِنْ
غُلاَةِ الْمُتَصَوِّفَـةِ أَنَّـهُ يُوْحَى إِلَيْهِ وَإِنْ
لَمْ يَدَّعِ النُّـبُوَّةَ، قَالَ فِي الأَنْوَارِ: وَيُقْطَعُ
بِتَكْفِيْرِ كُلِّ
قَائِلٍ قَوْلاً يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى تَضْلِيْلِ
الأُمَّـةِ وَتَكْفِيْرِ الصَّحَابَةِ، وَكُلِّ فَاعِلٍ فِعْلاً لاَ
يَصْدُرُ إِلاَّ
مِنْ كَافِرٍ كَالسُّجُوْدِ لِلصَّلِيْبِ أَو النَّارِ،
أَوْ الْمَشْيِ
إِلَى الكَنَائِسِ مَعَ أَهْلِهَا بِزِيِّهِمْ مِنَ
الزَّنَانِيْرِ
وَغَيْرِهَا".
“Al
Qadli ‘Iyadl berkata dalam kitab asy-Syifa: Setiap perkataan yang tegas
menafikan rububiyyah (ketuhanan) Allah, keesaan Allah atau perkataan yang
menyatakan beribadah kepada selain Allah, atau beribadah kepada sesuatu selain
Allah digabung dengan ibadah kepada Allah, maka itu semua adalah kekufuran,
seperti perkataan golongan Dahriyyah, orang-orang kristen, majusi, orang-orang
yang menyekutukan Allah dengan menyembah berhala, para Malaikat, Setan,
Matahari, bintang, api, atau siapa-pun dan sesuatu apa-pun selain Allah.
Demikian pula para penganut keyakinan Hulul dan Reinkarnasi. Demikian pula
orang yang mengakui ketuhanan dan keesaan Allah tetapi dia meyakini Allah tidak
hidup, tidak Qadim, atau bahwa Allah baharu, berbentuk dan bergambar,
atau mengklaim bahwa Allah memiliki anak, isteri, atau Allah terlahir dari
sesuatu, ada dari sesuatu, atau meyakini bahwa ada sesuatu selain Allah yang qadim
ada bersama Allah pada azal, atau meyakini ada pencipta atau pengatur seluruh
alam ini selain Allah, itu semua adalah kekufuran dengan ijma’ (konsensus)
ummat Islam. Demikian pula orang yang mengaku telah duduk-duduk bersama Allah,
bertemu dan berbincang-bincang dengan Allah, atau meyakini Allah menempati
tubuh seseorang seperti perkataan sebagian orang yang mengaku sufi, sebagian
bathiniyyah dan orang-orang nasrani. Demikian pula kita memastikan kekufuran
orang yang meyakini keqadiman alam dan kekalnya alam, atau meyakini reinkarnasi
roh dan berpindahnya roh selamanya dari satu badan ke badan yang lain; disiksa
atau memperoleh kenikmatan sesuai dengan suci atau kejinya roh tersebut.
Demikian pula orang yang mengakui ketuhanan Allah dan keesaannya tetapi
mengingkari kenabian secara mutlak dan umum, atau mengingkari kenabian nabi
kita secara khusus, atau kenabian salah seorang nabi yang ditegaskan oleh Allah
padahal dia mengetahui hal itu, maka dia kafir tanpa keraguan sedikit-pun.
Begitu pula orang yang mengatakan bahwa nabi kita bukan yang berada di Makkah
dan Hijaz. Demikian pula orang yang mengklaim kenabian untuk seseorang bersama
(di masa) Nabi kita Muhammad atau setelahnya atau yang mengaku dirinya sebagai
nabi, demikian juga para sufi (gadungan) ekstrim yang mengaku menerima wahyu
meskipun tidak mengaku sebagai nabi. Dalam kitab al Anwar dikatakan: Dan
dikafirkan secara pasti setiap orang yang mengucapkan perkataan yang berujung
kepada penyesatan terhadap ummat Islam dan pengkafiran terhadap para sahabat.
Demikian pula dikafirkan secara pasti setiap pelaku perbuatan yang tidak akan
muncul kecuali dari orang kafir, seperti sujud kepada salib atau api, berjalan
ke gereja bersama orang-orang kristen dengan pakaian ritual mereka seperti
zunnar dan lainnya“.
Peringatan
Kepada Masyarakat
Dalam
Muqaddimah al Qaanun al Asaasi Li Jam’iyyah Nahdlatil Ulama, KH Hasyim
Asy’ari setelah menjelaskan tentang pentingnya persaudaraan, persatuan, guyub
rukun, bekerja sama dan saling tolong menolong, dan bahaya perpecahan,
beliau kemudian mengingatkan para ulama madzhab empat akan bahaya
golongan-golongan yang menyimpang yang telah berkonsolidasi dalam berbagai
perkumpulan dan menyebutkan beberapa hadits dan atsar tentang hal itu.
Salah satu hadits yang beliau sebutkan:
قَالَ رَسُـوْلُ
اللهِ صلى الله عليه و سلم : "إِذَا ظَهَرَت الفِتَنُ وَالبِدَعُ
وَسُبَّ أَصْحَابِيْ فَلْيُظْهِرِ العَالِمُ عِلْمَهُ، فَمَنْ لَمْ
يَفْعَلْ ذلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِيْنَ" أخرجه الخطيب البغدادي
“Jika
muncul berbagai fitnah, bid’ah dan para sahabatku dicaci,maka hendaklah seorang
ulama menampakkan ilmunya (menjelaskan dan menyebarkannya kepada masyarakat),
jika ia tidak melakukannya maka ia terkena laknat Allah, para malaikat dan
manusia seluruhnya” (H.R. al Khathib al Baghdadi).
والحمد
لله وصلى الله وسلم على رسول الله ، والله أعلم وأحكم
.
[1]
KH Hasyim Asy’ari, Risaalah Ahl as-Sunnah wa al-Jamaa’ah fi Hadiits
al-Mautaa wa Asyraath as-Saa’ah wa Bayaan Mafhuum as-Sunnah wa al-Bid’ah. Baca
juga Muhammad Asad Syahaab, al-‘Allaamah Muhammad Hayim Asy’ari:
Waadli’ Labinah Istiqlaal Indonesia, Daar as-Shaadiq, Beirut, 1971.
[2]
Lihat KH Hasyim Asy’ari, muqaddimah kitab at-Tanbiihaat al-Waajibbaat
li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkaraat.
[3]
Lihat KH Hasyim Asy’ari, an-Nuur al-Mubiin fii Mahabbah Sayyid al-Mursaliin,
hlm. 66-75
[4]
Lihat Risaalah fi Ta’akkud al-Akhdz bi Madzaahib al-Aimmah al-Arba’ah.
[5]
KH Hayim Asy’ari, at-Tibyaan fii an-Nahy ‘an Muqaatha’ah al-Arhaam wa
al-Aqaarib wa al-Ikhwaan, hlm. 16.
[6]
KH Hasyim Asy’ari, Risaalah Ahl as-Sunnah, hlm. 8.
[7]
KH Hasyim Asy’ari, Risalah Ahl as-Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 9-13.
[8]
Lihat Majallah al-Manar dan Tafsir al-Manar.
[9]
Lihat buku mereka yang berjudul Fath al Majid Syarh Kitab at-Tauhid,
hal. 191.
[10]
Lihat ad-Durar as-Saniyyah fi ar-Radd ‘ala al Wahhabiyyah, hal. 41.
[11]
KH Hasyim Asy’ari, Risaalah fii Ta’akkud, hlm.29.
[12]
KH Hasyim Asy’ari, Aadaab al-‘Aalim wa al-Muta’allim fii maa Yahtaaju ilaihi
al-Muta’allim fii Ahwaal Ta’allumihi wa maa Yatawaqqafu ‘alaihi al-Mu’allim fii
Maqaamaat Ta’liimihi, hlm.102-108.
[13]
KH Hasyim Asy’ari, Risalah Ahl as-Sunnah Wal Jama’ah, hlm.13.
[14]
KH Hasyim Asy’ari, Risalah Ahl as-Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 14.
Salafy Wahabi Ngotot Tahlilan dari Hindu, Pendeta Hindu
Membantahnya !!!
Tahlilan dan Kebohongan Abd. Aziz (Ustad Salafi Wahabi) Dibongkar Oleh Pemeluk Hindu.
Pengantar:
Apakah sama agama dan tradisi? Secara umum dapat dijelaskan, bahwa Agama adalah pengikat jiwa yang menuntun jalan mencapai Tuhan. Sementara tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan di dalam melaksanakan ajaran agama. Namun seorang Ustadz Abdul Aziz, yang mengaku mantan Hindu, mengidentikkan tradisi dengan agama Hindu. Padahal Pak Ustadz ini, katanya, sudah menyandang gelar sarjana agama (SAg) Hindu dan sudah belajar Hindu selama 25 tahun, serta menguasai Yoga Samadi. Bukan main. Tetapi, kenapa dia meninggalkan Hindu. Benarkah Mantram Tryambakam kalah dengan suara Takbir?
Tahlilan dan Kebohongan Abd. Aziz (Ustad Salafi Wahabi) Dibongkar Oleh Pemeluk Hindu.
Pengantar:
Apakah sama agama dan tradisi? Secara umum dapat dijelaskan, bahwa Agama adalah pengikat jiwa yang menuntun jalan mencapai Tuhan. Sementara tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan di dalam melaksanakan ajaran agama. Namun seorang Ustadz Abdul Aziz, yang mengaku mantan Hindu, mengidentikkan tradisi dengan agama Hindu. Padahal Pak Ustadz ini, katanya, sudah menyandang gelar sarjana agama (SAg) Hindu dan sudah belajar Hindu selama 25 tahun, serta menguasai Yoga Samadi. Bukan main. Tetapi, kenapa dia meninggalkan Hindu. Benarkah Mantram Tryambakam kalah dengan suara Takbir?
Kesaksian Menjadi Muslim
Inilah rangkuman kesaksian Ustadz Abdul Aziz yang disampaikan di dalam sebuah pengajian yang bertajuk ‘’Kesaksian Hidayah Mantan Pemeluk Hindu’’ di Surakarta, Jawa Tengah, pada Rabu, 21 Juli 2010, rekamannya beredar di tengah-tengah masyarakat, penulis sampaikan dengan gaya bertutur seperti berikut ini.
Sebelum saya masuk Islam, agama saya adalah Hindu. Pendidikan saya Sarjana Agama Hindu. Saya mempelajari Hindu sudah dua puluh lima tahun. Orang mungkin tidak akan percaya kalau saya bisa sampai masuk Islam. Saya berkasta brahmana. Nama depan saya ‘’Ida Bagus’’ (dia tidak menyebutkan nama Hindunya). Saya menguasai yoga samadi.
Saya melakukan praktek yoga samadi di Pura Mandara Giri Lumajang bersama beberapa orang teman saya. Pada suatu hari saya disarankan untuk membaca Mantram Tryambakam. Saya pun terus aktif membaca Mantram Tryambakam, pagi, sore dan malam. Pada hari ketiga yang melakukan yoga samadi, saya diuji Tuhan, ribuan nyamuk datang dan mengerubuti saya. Saya kemudian bacakan Mantram Tryambakam, nyamuk itu hilang. Pada hari kelima saya melakukan yoga semadi, saya lagi diuji Tuhan, aroma bau busuk menebar dari tubuh saya. Saya kemudian membacakan Tryambakam, bau busuk di tubuh saya pun hilang.
Pada hari ketujuh saya melakukan yoga samadi, tiba-tiba hati saya berdebar-debar. Saya terus membaca Tryambakam, tetapi guncangan hati saya tidak berhenti. Dalam situasi berdebar-debar, tiba-tiba saya mendengar suara takbir ‘’Allahuakbar … Allahuakbar’’. Padahal malam itu bukan malam idul fitri, lantas dari mana suara takbir itu datang. Saya coba lawan dengan Mantram Triyambakam, namun suara takbir itu tidak hilang, malah suaranya semakin jelas dan kuat. Dari situ saya kemudian berpikir bahwa ini adalah hidayah bagi saya. Saya kemudian masuk Islam pada tahun 1995, dan naik haji pada tahun 1996. Sepulang saya dari haji, kedua orang tua saya dan lima saudara saya semua ikut dengan saya masuk agama islam.
_______________________________
Tanggapan dari Pendeta Hindu Soal Selamatan Atau Tahlilan
Panca Yajna: Upacara Selamatan?
Tidak ada maksud sedikitpun dari penulis untuk mencampuri urusan privacy seorang Ustazd Abdul Aziz, lebih-lebih mengenai pilihan jalan (agama) penuntun hidupnya. Cuma saja, yang mengundang perhatian saya, karena di dalam ceramahnya yang berdurasi sekitar satu setengah jam (dua CD) tersebut, Pak Ustadz telah menjadikan ajaran ‘’Agama’’ Hindu sebagai bahan banyolan, di antaranya seperti kalimat-kalimat yang dicetak miring berikut ini:
Pertama. Panca Yajna adalah lima upacara selamatan di dalam agama Hindu, masing-masing:
1. Dewa yajna yakni selamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
2. Rsi yajnya adalah selamatan kepada orang-orang yang dianggap suci.
3. Pitra yajna adalah selamatan kepada roh leluhur.
4. Manusa yajna adalah selamatan kepada manusia.
5. Butha yajna adalah selamatan kepada mahluk bawahan.
Melakukan selamatan ini adalah wajib hukumnya di dalam Agama Hindu. Contoh selamatan pada hari kematian, acaranya berlangsung pada hari pertama, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan nyewu (hari ke-1000). ‘’Kalau tidak punya uang untuk melaksanakan selamatan, wajib utang kepada tetangga. (jamaah tertawa).
Sebab bila keluarga yang meninggal tidak diselamatin, rohnya akan gentayangan, menjelma menjadi hewan, binatang, bersemayam di keris dan jimat, dll. Makanya pohon-pohon diberi sarung, dan pada setiap hari Sukra Umanis jimat dan keris diberi minum kopi. ‘’Sedangkan yang melaksanakan selamatan, dapat tiket langsung masuk surga.’’ Di dalam Islam tidak ada selamatan-selamatan, tetapi yang ada adalah sedekoh. Sedekoh punya kelebihan dari selamatan yakni memberikan sedekoh ketika kita punya kelebihan yang biasanya dilakukan pada menjelang bulan puasa. Jadi bukan hasil utang.
Tanggapan Penulis. Sejak SD saya belajar agama Hindu, sampai sekarang Panca Yajna itu artinya lima korban suci. Bahkan di dalam Kitab Bhagawad Gita, yajna berarti bakti, pengabdian, persembahan dan kurban (sedekah) yang dilakukan dengan tulus iklas (hati suci). Bukan berharap untung yang lebih besar kepada Tuhan dari sedekoh yang kecil kepada manusia. Jadi Panca Yajnya itu adalah berbakti (sujud) kepada Tuhan (Dewa Yajna), bakti kepada orang suci (Rsi Yajna), berbakti kepada leluhur (pitra yajna), melayani (berderma) kepada sesama (manusa yajna) dan bersedekah kepada bahluk bawahan (butha yajna). Tidak ada saya jumpai arti Panca Yajna adalah lima upacara selamatan dan wajib ngutang, seperti kitab yang dibaca Ustadz Abdul Aziz.
Istilah selamatan tidak ada di dalam Hindu, apalagi selamatan atas kematian. Adapun rangkaian upacara kematian di dalam Hindu seperti nelun, ngaben, ngeroras (memukur) dll. pada intinya merupakan penyucian sang jiwa dari unsur badan fisik, mendoakan agar perjalanan sang jiwa tidak mendapatkan halangan, memperoleh ketenangan dan kedamaian di alam pitra. (Kitab Asvalayana Griha Sutra). Masalah dia (sang jiwa) mendapat tiket ke sorga atau akan masuk neraka, tergantung dari bekal karmanya. Yang jelas sangat tidak ditentukan oleh acara selamatan.
Apalagi kalau dikatakan bahwa roh yang tidak diselamatin akan gentayangan, menjelma jadi hewan atau pohon, itu ada di cerita film kartun. Proses reinkarnasi berlangsung puluhan bahkan mungkin sampai ratusan tahun. Sementara pohon-pohon di berikan busana (sarung: menurut Ustazd Abdul Aziz), adalah sebagai tanda bahwa pohon-pohon tersebut dilestarikan dan tidak boleh ditebang sembarangan. Ini wujud bahwa Hindu cinta lingkungan.
Kedua. Di dalam agama Hindu, dalam memberangkatkan mayat ada tradisi trobosan yakni berjalan menerobos di bawah keranda mayat, sebagai wujud bhakti kepada orang tua yang meninggal. Dan ketika mayat ditandu ke kuburan, di sepanjang jalan dipayungi. Apakah mayatnya kepanasan? Belum pernah mati kok tahu mayat kepanasan. Di Islam acara-acara semacam itu tidak ada dasar hukumnya baik di hayat maupun hadist.
Tanggapan Penulis. Dengan tanpa bermaksud merendahkan kemampuan sosok Ustadz Abdul Aziz di bidang agama, namun perlu saya sampaikan bahwa rangkaian acara satu hari, 3, 7, 40, 100 dan nyewu, menurut hemat saya adalah tradisi di dalam kehidupan beragama dengan berbagai tujuan dan motivasinya. Misalnya ‘’Tradisi Nyewu di Yogyakarta’’ yang pernah dimuat di Media Hindu. Tolong dibedakan antara agama dan tradisi.
Ketiga. Apakah Tuhan Hindu minta makan? Lihat ini, Dewa makan bubur hangat. Dewa Brahma masih doyan pisang rebus (Ustadz menunjukkan gambar Brahma disertai sesajen termasuk tumpeng). Tumpeng bagi Hindu dianggap simbol Tri Murti. Barang siapa yang bisa membikin tumpeng, berarti dia sudah masuk Hindu.
Tanggapan Penulis. Orang bodoh pun tahu bahwa Tuhan tidak butuh apapun dari manusia, apalagi pisang rebus. Makanan duniawi cuma dibutuhkan oleh badan fisik, tidak untuk badan rohani. Persembahan berupa bebantenan yang dilakukan oleh orang Bali yang beragama Hindu bukan untuk memberi dewa (Tuhan) makan. Akan tetapi, melakukan persembahan merupakan cara umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan ungkapan rasa terimakasih kepada Tuhan atas segala anugerah-Nya. Persembahan tersebut kemudian dimohonkan untuk diberkati untuk selanjutnya dapat kita nikmati. ‘’Yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa. ‘’ (BG. III.13)
Bisa membuat tumpeng berarti masuk Hindu? Ini bombastis. Untuk menjadi Hindu ada proses ritualnya, di antaranya upacara sudi widana dan mengucapkan Panca Sradha. Banyak orang muslim, kristen dan Budha yang pandai membuat tumpeng, apakah itu berarti mereka masuk Hindu?
Para Wali Menjiplak Weda?
Menanggapi pertanyaan seorang jamaah mengenai film seri kartun ‘’Little Krisna’’ di TV, Ustadz Abdul Aziz mengatakan, ‘’Hati-hati, awasi anak-anak kita, itu cara-cara orang di luar muslim untuk melakukan cuci otak terhadap anak-anak kita (muslim).’’ Sedangkan setahu saya, cuci otak itu adalah cara teroris untuk merekrut anggota. Teroris itu siapa? Tidak pernah ada di dalam Hindu gerakan cuci otak untuk merekrut orang (agama) lain. Yang ada malah sebaliknya, orang di luar Hindu yang sibuk melakukan gerakan konversi untuk memperoleh tabungan pahala.
Benarkah para wali dulu mengubah (menjiplak) doa-doa Hindu ke dalam bahasa Alquran?’’ Atas pertanyaan seorang jamaah lainnya ini, Ustadz Abdul Aziz tidak kuasa menjawab. ‘’Saya tidak berani menjawab pertanyan ini, karena saya tidak punya referensi sebagai dasar,’’ tangkisnya. Apa makna di balik kata tidak berani tersebut? Apa benar dia tidak punya referensi?
Seorang ustadz yang mengaku telah belajar weda selama 25 tahun, tetapi referensi yang disampaikan kok malah muter-muter soal tradisi melulu; acara selamatan, terobosan, memayungi mayat, pohon pakai sarung, keris dan jimat minum kopi, membuat tumpeng.
Padahal harus disadari, yang namanya tradisi tentulah berbeda sesuai dengan desa, kala, patra (tempat, waktu dan keadaan), baik di dalam satu agama apalagi beda agama. Semua agama punya tradisi, termasuk di kalangan umat Islam. Tetapi sepanjang hal itu dilakukan sebagai ungkapan rasa bhakti, rasa hormat dan doa, kenapa tidak diapresiasi. Tidak ada dasar hukumnya (bida’ah)? Sekarang zaman komputerisasi, di mana-mana orang pakai laptop, HP, pesawat terbang, sepeda motor, apakah juga bida’ah menurut Islam?
Selama berceramah, tidak ada sepotong filsafatpun yang terlontar dari mulut sang ustadz. Sementara esensi dari ajaran Hindu ada pada filsafat. Di situ logika dimainkan, bukan sekedar keyakinan semu dengan menelan mentah ayat-ayat.
Mantram Tryambakam adalah syair yang sakral dan memiliki kekuatan (energi) gaib. Kalau sekedar ngusir nyamuk dan menghilangkan bau busuk, ngapain harus melakukan yoga samadi sampai tujuh hari tujuh malam, cukup dengan autan saja. Sedangkan di dalam melakukan yoga samadi, pada tahap tertentu, berbagai bentuk godaan bisa saja muncul. Namun hal itu bukanlah petunjuk Tuhan (hidayah), malah bila kita tidak kuat bisa terjerumus.
Oleh: I. K. Sugiartha ( Sisya Grya Taman Narmada ),
Penulis: I. K. Sugiartha
Sisya Grya Taman Narmada,
Lombok Barat.
HP. 081917180160
Inilah rangkuman kesaksian Ustadz Abdul Aziz yang disampaikan di dalam sebuah pengajian yang bertajuk ‘’Kesaksian Hidayah Mantan Pemeluk Hindu’’ di Surakarta, Jawa Tengah, pada Rabu, 21 Juli 2010, rekamannya beredar di tengah-tengah masyarakat, penulis sampaikan dengan gaya bertutur seperti berikut ini.
Sebelum saya masuk Islam, agama saya adalah Hindu. Pendidikan saya Sarjana Agama Hindu. Saya mempelajari Hindu sudah dua puluh lima tahun. Orang mungkin tidak akan percaya kalau saya bisa sampai masuk Islam. Saya berkasta brahmana. Nama depan saya ‘’Ida Bagus’’ (dia tidak menyebutkan nama Hindunya). Saya menguasai yoga samadi.
Saya melakukan praktek yoga samadi di Pura Mandara Giri Lumajang bersama beberapa orang teman saya. Pada suatu hari saya disarankan untuk membaca Mantram Tryambakam. Saya pun terus aktif membaca Mantram Tryambakam, pagi, sore dan malam. Pada hari ketiga yang melakukan yoga samadi, saya diuji Tuhan, ribuan nyamuk datang dan mengerubuti saya. Saya kemudian bacakan Mantram Tryambakam, nyamuk itu hilang. Pada hari kelima saya melakukan yoga semadi, saya lagi diuji Tuhan, aroma bau busuk menebar dari tubuh saya. Saya kemudian membacakan Tryambakam, bau busuk di tubuh saya pun hilang.
Pada hari ketujuh saya melakukan yoga samadi, tiba-tiba hati saya berdebar-debar. Saya terus membaca Tryambakam, tetapi guncangan hati saya tidak berhenti. Dalam situasi berdebar-debar, tiba-tiba saya mendengar suara takbir ‘’Allahuakbar … Allahuakbar’’. Padahal malam itu bukan malam idul fitri, lantas dari mana suara takbir itu datang. Saya coba lawan dengan Mantram Triyambakam, namun suara takbir itu tidak hilang, malah suaranya semakin jelas dan kuat. Dari situ saya kemudian berpikir bahwa ini adalah hidayah bagi saya. Saya kemudian masuk Islam pada tahun 1995, dan naik haji pada tahun 1996. Sepulang saya dari haji, kedua orang tua saya dan lima saudara saya semua ikut dengan saya masuk agama islam.
_______________________________
Tanggapan dari Pendeta Hindu Soal Selamatan Atau Tahlilan
Panca Yajna: Upacara Selamatan?
Tidak ada maksud sedikitpun dari penulis untuk mencampuri urusan privacy seorang Ustazd Abdul Aziz, lebih-lebih mengenai pilihan jalan (agama) penuntun hidupnya. Cuma saja, yang mengundang perhatian saya, karena di dalam ceramahnya yang berdurasi sekitar satu setengah jam (dua CD) tersebut, Pak Ustadz telah menjadikan ajaran ‘’Agama’’ Hindu sebagai bahan banyolan, di antaranya seperti kalimat-kalimat yang dicetak miring berikut ini:
Pertama. Panca Yajna adalah lima upacara selamatan di dalam agama Hindu, masing-masing:
1. Dewa yajna yakni selamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
2. Rsi yajnya adalah selamatan kepada orang-orang yang dianggap suci.
3. Pitra yajna adalah selamatan kepada roh leluhur.
4. Manusa yajna adalah selamatan kepada manusia.
5. Butha yajna adalah selamatan kepada mahluk bawahan.
Melakukan selamatan ini adalah wajib hukumnya di dalam Agama Hindu. Contoh selamatan pada hari kematian, acaranya berlangsung pada hari pertama, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan nyewu (hari ke-1000). ‘’Kalau tidak punya uang untuk melaksanakan selamatan, wajib utang kepada tetangga. (jamaah tertawa).
Sebab bila keluarga yang meninggal tidak diselamatin, rohnya akan gentayangan, menjelma menjadi hewan, binatang, bersemayam di keris dan jimat, dll. Makanya pohon-pohon diberi sarung, dan pada setiap hari Sukra Umanis jimat dan keris diberi minum kopi. ‘’Sedangkan yang melaksanakan selamatan, dapat tiket langsung masuk surga.’’ Di dalam Islam tidak ada selamatan-selamatan, tetapi yang ada adalah sedekoh. Sedekoh punya kelebihan dari selamatan yakni memberikan sedekoh ketika kita punya kelebihan yang biasanya dilakukan pada menjelang bulan puasa. Jadi bukan hasil utang.
Tanggapan Penulis. Sejak SD saya belajar agama Hindu, sampai sekarang Panca Yajna itu artinya lima korban suci. Bahkan di dalam Kitab Bhagawad Gita, yajna berarti bakti, pengabdian, persembahan dan kurban (sedekah) yang dilakukan dengan tulus iklas (hati suci). Bukan berharap untung yang lebih besar kepada Tuhan dari sedekoh yang kecil kepada manusia. Jadi Panca Yajnya itu adalah berbakti (sujud) kepada Tuhan (Dewa Yajna), bakti kepada orang suci (Rsi Yajna), berbakti kepada leluhur (pitra yajna), melayani (berderma) kepada sesama (manusa yajna) dan bersedekah kepada bahluk bawahan (butha yajna). Tidak ada saya jumpai arti Panca Yajna adalah lima upacara selamatan dan wajib ngutang, seperti kitab yang dibaca Ustadz Abdul Aziz.
Istilah selamatan tidak ada di dalam Hindu, apalagi selamatan atas kematian. Adapun rangkaian upacara kematian di dalam Hindu seperti nelun, ngaben, ngeroras (memukur) dll. pada intinya merupakan penyucian sang jiwa dari unsur badan fisik, mendoakan agar perjalanan sang jiwa tidak mendapatkan halangan, memperoleh ketenangan dan kedamaian di alam pitra. (Kitab Asvalayana Griha Sutra). Masalah dia (sang jiwa) mendapat tiket ke sorga atau akan masuk neraka, tergantung dari bekal karmanya. Yang jelas sangat tidak ditentukan oleh acara selamatan.
Apalagi kalau dikatakan bahwa roh yang tidak diselamatin akan gentayangan, menjelma jadi hewan atau pohon, itu ada di cerita film kartun. Proses reinkarnasi berlangsung puluhan bahkan mungkin sampai ratusan tahun. Sementara pohon-pohon di berikan busana (sarung: menurut Ustazd Abdul Aziz), adalah sebagai tanda bahwa pohon-pohon tersebut dilestarikan dan tidak boleh ditebang sembarangan. Ini wujud bahwa Hindu cinta lingkungan.
Kedua. Di dalam agama Hindu, dalam memberangkatkan mayat ada tradisi trobosan yakni berjalan menerobos di bawah keranda mayat, sebagai wujud bhakti kepada orang tua yang meninggal. Dan ketika mayat ditandu ke kuburan, di sepanjang jalan dipayungi. Apakah mayatnya kepanasan? Belum pernah mati kok tahu mayat kepanasan. Di Islam acara-acara semacam itu tidak ada dasar hukumnya baik di hayat maupun hadist.
Tanggapan Penulis. Dengan tanpa bermaksud merendahkan kemampuan sosok Ustadz Abdul Aziz di bidang agama, namun perlu saya sampaikan bahwa rangkaian acara satu hari, 3, 7, 40, 100 dan nyewu, menurut hemat saya adalah tradisi di dalam kehidupan beragama dengan berbagai tujuan dan motivasinya. Misalnya ‘’Tradisi Nyewu di Yogyakarta’’ yang pernah dimuat di Media Hindu. Tolong dibedakan antara agama dan tradisi.
Ketiga. Apakah Tuhan Hindu minta makan? Lihat ini, Dewa makan bubur hangat. Dewa Brahma masih doyan pisang rebus (Ustadz menunjukkan gambar Brahma disertai sesajen termasuk tumpeng). Tumpeng bagi Hindu dianggap simbol Tri Murti. Barang siapa yang bisa membikin tumpeng, berarti dia sudah masuk Hindu.
Tanggapan Penulis. Orang bodoh pun tahu bahwa Tuhan tidak butuh apapun dari manusia, apalagi pisang rebus. Makanan duniawi cuma dibutuhkan oleh badan fisik, tidak untuk badan rohani. Persembahan berupa bebantenan yang dilakukan oleh orang Bali yang beragama Hindu bukan untuk memberi dewa (Tuhan) makan. Akan tetapi, melakukan persembahan merupakan cara umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan ungkapan rasa terimakasih kepada Tuhan atas segala anugerah-Nya. Persembahan tersebut kemudian dimohonkan untuk diberkati untuk selanjutnya dapat kita nikmati. ‘’Yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa. ‘’ (BG. III.13)
Bisa membuat tumpeng berarti masuk Hindu? Ini bombastis. Untuk menjadi Hindu ada proses ritualnya, di antaranya upacara sudi widana dan mengucapkan Panca Sradha. Banyak orang muslim, kristen dan Budha yang pandai membuat tumpeng, apakah itu berarti mereka masuk Hindu?
Para Wali Menjiplak Weda?
Menanggapi pertanyaan seorang jamaah mengenai film seri kartun ‘’Little Krisna’’ di TV, Ustadz Abdul Aziz mengatakan, ‘’Hati-hati, awasi anak-anak kita, itu cara-cara orang di luar muslim untuk melakukan cuci otak terhadap anak-anak kita (muslim).’’ Sedangkan setahu saya, cuci otak itu adalah cara teroris untuk merekrut anggota. Teroris itu siapa? Tidak pernah ada di dalam Hindu gerakan cuci otak untuk merekrut orang (agama) lain. Yang ada malah sebaliknya, orang di luar Hindu yang sibuk melakukan gerakan konversi untuk memperoleh tabungan pahala.
Benarkah para wali dulu mengubah (menjiplak) doa-doa Hindu ke dalam bahasa Alquran?’’ Atas pertanyaan seorang jamaah lainnya ini, Ustadz Abdul Aziz tidak kuasa menjawab. ‘’Saya tidak berani menjawab pertanyan ini, karena saya tidak punya referensi sebagai dasar,’’ tangkisnya. Apa makna di balik kata tidak berani tersebut? Apa benar dia tidak punya referensi?
Seorang ustadz yang mengaku telah belajar weda selama 25 tahun, tetapi referensi yang disampaikan kok malah muter-muter soal tradisi melulu; acara selamatan, terobosan, memayungi mayat, pohon pakai sarung, keris dan jimat minum kopi, membuat tumpeng.
Padahal harus disadari, yang namanya tradisi tentulah berbeda sesuai dengan desa, kala, patra (tempat, waktu dan keadaan), baik di dalam satu agama apalagi beda agama. Semua agama punya tradisi, termasuk di kalangan umat Islam. Tetapi sepanjang hal itu dilakukan sebagai ungkapan rasa bhakti, rasa hormat dan doa, kenapa tidak diapresiasi. Tidak ada dasar hukumnya (bida’ah)? Sekarang zaman komputerisasi, di mana-mana orang pakai laptop, HP, pesawat terbang, sepeda motor, apakah juga bida’ah menurut Islam?
Selama berceramah, tidak ada sepotong filsafatpun yang terlontar dari mulut sang ustadz. Sementara esensi dari ajaran Hindu ada pada filsafat. Di situ logika dimainkan, bukan sekedar keyakinan semu dengan menelan mentah ayat-ayat.
Mantram Tryambakam adalah syair yang sakral dan memiliki kekuatan (energi) gaib. Kalau sekedar ngusir nyamuk dan menghilangkan bau busuk, ngapain harus melakukan yoga samadi sampai tujuh hari tujuh malam, cukup dengan autan saja. Sedangkan di dalam melakukan yoga samadi, pada tahap tertentu, berbagai bentuk godaan bisa saja muncul. Namun hal itu bukanlah petunjuk Tuhan (hidayah), malah bila kita tidak kuat bisa terjerumus.
Oleh: I. K. Sugiartha ( Sisya Grya Taman Narmada ),
Penulis: I. K. Sugiartha
Sisya Grya Taman Narmada,
Lombok Barat.
HP. 081917180160