Jumat, 31 Mei 2013

Menjaga Lisan

Imam Al-Ghazali
Riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah, dari Rasulullah saw, bersabda:
“Tuhanku mendidikku, dan Dia mendidik adabku dengan baik.”

Kebiasaan berbicara kotor harus segera dihentikan, karena sangat berpengaruh terhadap hati. Secara khusus, lisan merupakan proyektor hati. Setiap kata yang terucap akan membekas di dalam hati dan akan tergores di dalam benaknya. Karenanya, bila lisan berkata dusta, akan terjelma gambaran dusta di dalam hati, dan dengan demikian hati pun akhirnya berkecenderungan melakukan penyimpangan. Demikian pula bila lisan mengobral kata yang tidak berguna, hati pun menjadi pekat dan akhirnya mematikan hati.
Tidak mengherankan bila Rasulullah saw sangat memperhatikan ‘ perkara lisan ini. Dalam beberapa hadis beliau bersabda, “Barangsiapa menjaminkan kepadaku dengan menjaga lisan dan kemaluannya, maka aku akan menjaminnya masuk surga.”
Suatu ketika beliau ditanya tentang faktor yang banyak menyebabkan orang masuk neraka, Nabi saw menjawab, “Yaitu dua lubang: lisan dan kemaluan.”

Sabdanya pula, “Sesungguhnya manusia itu disungkurkan ke dalam neraka hanya lantaran lisannya.”Juga sabdanya, “Barangsiapa diam, maka selamat.”

Suatu ketika Mu’adz bin Jabal r.a. bertanya kepada Nabi saw, “Pekerjaan apakah yang paling utama?” Lalu beliau menampakkan lisan dan meletakkan tangan beliau pada lisan, seraya bersabda, ;”Sesungguhnya kebanyakan dosa manusia berpangkal dari lisannya.”
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r. Bukhari Muslim).
Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa banyak bicara, maka banyak salahnya, dan barangsiapa banyak salahnya berarti banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya.” (AI-Hadits).

Penyakit Lisan
Sebenarnya bencana dan penyakit lisan itu ada dua puluh, sebagaimana kami uraikan dalam Al-Ihya’, Bab “Penyakit Lisan”. Namun panjang uraiannya. Anda cukup dengan memahami satu ayat ini:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisik mereka, kecuali bisik-bisik dari orang yang menyuruh memberi sedekah atau berbuat ma’ruf.” (Q.s. An-Nisa’: 114).
Maknanya, Anda jangan bicara kecuali memiliki arti bagi diri Anda. Anda cukup membatasi yang penting-penting saja. Itu akan menyelamatkan.
Anas r.a. berkata, “Seorang pemuda mati syahid di Perang Uhud, sedang di perutnya ada batu yang mengganjal karena lapar. Kemudian ibunya mengusap debu yang ada di wajahnya sambil berkata, ‘Nikmatilah surga, anakku!’ Lalu Rasulullah saw bersabda, ‘Dan apa yang menunjukkan kamu, kalau ia bicara tidak pada tempatnya, dan melarang sesuatu yang tidak membahayakannya’.”
Batasan bicara yang tidak berarti, apabila pembicaraan itu ditinggalkan, maka tidak menghilangkan pahala, dan tidak membuatnya bahaya. Kalau seseorang membatasi hal demikian, akan sedikit bicara. Seorang hamba seharusnya mengoreksi diri atas semua yang tiada berarti baginya. Dzikir kepada Allah swt. tentunya akan menjadi pengganti lebih baik, karena dzikir termasuk simpanan kebahagiaan. Masuk akalkah apabila harta terpendam dibiarkan, lantas memilih lumpurnya? Dalam hal ini pun, jika pembicaraannya tidak mengandung dosa. Kalau mengandung dosa, berarti la meninggalkan harta terpendamnya, lalu mengambil api neraka.
Termasuk omongan yang tidak berarti adalah cerita-cerita soal wisata, ragam menu makanan luar negeri, kebiasaan-kebiasaan mereka, perilaku manusia, soal industri dan perdagangan. Semua itu merupakan obyek yang membuat manusia asyik di dalamnya.
Barangkali Anda ingin tahu sebagian penyakit tersebut. Dari dua puluh macam penyakit lisan, tersimpul pada lima macam penyakit: dusta, ghibah (menggunjing), berdebat secara konfrontatif, senda gurau dan puj’ian.

Prev - Next >>

Pertama: Dusta
Rasulullah saw bersabda:
“Seorang hamba senantiasa dusta, dan terus-menerus dusta, sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”
Sabdanya pula, “Celakalah orang yang bercakap-cakap, kemudian berdusta, agar menimbulkan tawa orang banyak. Sungguh celaka ia ... dan celaka ... “
Suatu ketika Rasulullah saw ditanya oleh seorang sahabat, “Ya Rasulullah, apakah orang yang beriman itu bisa berzina? Apakah orang beriman itu juga mencuri?” Beliau menjawab, “Itu mungkin saja terjadi!” “Kalau berdusta?” tanya sahabat itu lagi. Nabi saw menjawab, “Tidak, sebab yang berdusta itu hanyalah orang-orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Allah. “
Pada suatu kesempatan, dalam keadaan berbaring Rasulullah saw bersabda, “Maukah kalian kuberitahu tentang induk segala dosa besar? Yaitu syirik kepada Allah swt. dan durhaka kepada kedua orangtua.” Kemudian beliau duduk dan bersabda kembali, “Dan ingat pula, berkata dusta.”
Sabda beliau pula, “Setiap perilaku telah dicap oleh Allah swt. pada orangMukmin, kecuali khianat dan dusta.”
Dusta Darurat.
Perlu diketahui, bahwa dusta itu haram dalam segala hal, kecuali karena darurat. Suatu ketika seorang ibu berkata kepada anaknya, “Mari ke sini, nanti kuberi sesuatu!” Lalu Nabi saw bertanya kepada sang ibu itu, “Kalau anak itu nanti datang menemuimu, apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Si ibu itu menjawab, “Buah kurma.” Nabi saw berkata lagi, “Ingatlah, bila engkau tidak memenuhinya, engkau dicatat telah berdusta.”
Manusia hendaknya menghindari dusta, bahkan dusta dalam khayalan dan bisikan jiwa. Sebab akan tertanam dalam jiwanya lukisan yang bengkok, sampai akhirnya dusta pula mimpi-mimpinya, sehingga rahasia alam malakut tidak terbuka kala tidurnya. Dusta ditolerir, jika dengan bicara jujur justru kita terjerumus pada larangan yang lebih dahsyat daripada dusta. Sebagaimana kita boleh memakan bangkai, bilamana menjauhinya ternyata justru melakukan pelanggaran lain yang lebih dahsyat berupa hilangnya nyawa.
Ummu Kaltsum r. a. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw tidak membolehkan dusta, kecuali dalam tiga hal: (1) Berdusta untuk mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa, (2) Pada waktu perang, dan (3) Dusta seorang suami kepada sang istri (demi kebaikan).”
Hal ini secara jelas dapat dipahami, bahwa bila rahasia perang diketahui oleh musuh, niscaya dengan mudah mereka akan menyerang dan mengalahkan kita. Begitupun bila semua rahasia perilaku seorang suami diketahui oleh si istri, akan mendatangkan petaka dan bahaya lebih besar daripada bahaya dusta itu sendiri. Demikian pula bila dua orang yang tengah bersengketa yang tidak secepatnya diupayakan ishlah, keduanya - termasuk pula tetangga sekitarnya - akan terus bergelimang dalam dosa dan kedurhakaan. Dan bila ternyata ishlah antara keduanya hanya memungkinkan bila ditempuh dengan jalan berdusta, maka itu lebih utama dilakukan. Demikian dalam hadits.
Semakna dengan perkara ini adalah, dusta kita terhadap si zalim yang ingin meraup keuntungan dari harta para tetangga atau orang lain, atau berdusta untuk menutupi rahasia seseorang, atau enggan mengakui kesalahan diri sendiri kepada orang lain karena membeberkan perbuatan dosa, agar hatinya tentram. Atau berdusta kepada sang istri dengan maksud agar cintanya hanya untuk kita. Semua ini adalah jenis jenis perbuatan dusta yang dibolehkan oleh agama, sepanjang untuk kepentingan dan tujuan menangkal bahaya yang lebih dahsyat dari dusta itu sendiri. Tetapi, bila bertujuan untuk menguntungkan kepentingan diri sendiri seperti menimbun kekayaan dan mengejar kedudukan, hukumnya adalah haram.
Dan bila Anda terpaksa harus berdusta, usahakan untuk memakai bahasa diplomatis, sehingga tidak terlalu terseret pada kedustaan. Ibrahim bin Adham jika la dicari seseorang di rumahnya, la berpesan kepada pembantu wanitanya, “Katakan saja kepadanya, ‘Carilah dia di masjid’!”
Sedangkan Sya’bi membuat garis lingkaran dan menyuruh pembantunya, “Letakkan jari jemarimu di lingkaran itu, dan katakan, ia (Sya’bi) tidak ada di sana!”
Sebagian mereka ada yang membuat alasan kepada penguasa, dengan berkata, “Selama aku berpisah denganmu, aku tidak pernah bangkit dari tanah (sakit) kecuali Allah swt. menghendaki.”
Di hadapan penguasa mereka ada yang mengingkari apa yang telah dikatakan, “Sesungguhnya Allah mengetahui, aku ‘tidak’ berkata hal itu sedikit pun.” la berdiplomasi dengan mengaburkan kata maa (nafi) yang berarti “tidak”, padahal dimaksudkan, pada arti maa yang bukan nafi.
Diplomasi dibolehkan untuk tujuan sepele. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tua dan mengatakan, ‘Kamu akan kami naikkan anak unta,’ atau ‘Suamimu di mataku tampak putih’.”
Semua kata-kata itu memberi kesamaran arti yang berbeda dengan makna sebenarnya. Kata-kata itu boleh diucapkan kepada wanita atau anak-anak, untuk menenangkan hatinya. Begitupun orang yang menolak makanan, tidak seyogyanya la berbohong, “Aku tidak berselera,” padahal la berselera. Namun sebaiknya la berdiplomasi. Rasul saw pernah bersabda kepada seorang wanita yang berbicara seperti itu, “Janganlah kamu kumpulkan antara bohong dan rasa lapar!”



Kedua: Menggunjing (Ghibah)
Tentang menggunjing (ghibah) ini, Allah swt. berfirman: “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yangsudah meninggal?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Q.s. Al-Hujurat: 12).
Rasulullah saw bersabda, “Ghibah itu lebih besar dosanya dari pada zina. “
Allah mewahyukan kepada Musa as.:
“Barangsiapa meninggal dalam keadaan telah bertobat dari ghibah, maka dia akan menjadi orang terakhir masuk surga. Dan barangsiapa meninggal dalam keadaan melakukan ghibah, maka dia akan menjadi orang pertama masuk neraka.”
Rasul saw. bersabda, “Pada malam Isra’, aku melewati suatu kaum yang tengah mencakar-cakar wajah mereka dengan kukunya. Aku bertanya, Apa itu Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Itulah gambaran orang yang suka menggunjing sesama’. “
Ghibah - sebagaimana dijelaskan Rasul saw. - berarti menyebut-nyebut persoalan orang lain yang tidak disukainya, sekalipun hal tersebut benar-benar terjadi, baik menyangkut kekurangannya, pikiran, pakaian, perbuatan, perkataan, rumah, keturunan, kendaraan dan hal-hal yang berkaitan dengan orang tersebut.
Bahkan ucapan Anda, “Lengan bajunya lebar,” atau “Ujung bajunya panjang.”
Ketika disebut di hadapan Rasul saw, “Betapa lemahnya orang itu,” Rasul saw langsung bersabda, Apakah kalian menggunjingnya?” Dan saat Aisyah r.a. memberikan isyarat dengan tangannya tentang seorang wanita yang pendek, Rasul saw bersabda, “Kamu menggunjingnya?”
Ini menunjukkan bahwa ghibah itu tidak hanya terbatas pada ucapan saja, tetapi tidak ada bedanya apakah dengan isyarat tangan, sandi, aba-aba, gerak-gerik, menirukan atau sindiran yang dimengerti. Sebagaimana ucapan Anda, “Sebagian saudara kita atau sahabat kita, begini dan begitu.”
Perlu diketahui, ragam gunjingan terburuk yang dilakukan ahli ibadat. Misalnya mereka katakan, “Alhamdulillah, Allah tidak menguji kita, dengan memasuki tempat penguasa untuk mencari dunia.” Atau mereka mengatakan, “Na’udzubillah, dari sedikit rasa malu.” Padahal mereka maksudkan adalah menggunjing orang.
Misalnya lagi, “Betapa baiknya perilaku orang tersebut, kalau saja ia tidak diuji dengan ujian sebagaimana kita. Kesabarannya sangat sedikit dalam menghadapi dunia. Semoga Allah memaafkan kita.” Kata-kata ini bertujuan ghibah.
Mereka kumpulkan ghibah dan riya’, disamping mereka menampakkan diri sebagai orang saleh yang meninggalkan ghibah. Semuanya merupakan kotoran yang menimpa mereka, dengan menyangka dirinya terbebas dari ghibah.
Kadang-kadang, seseorang digunjing, sementara orangyang hadir telah lupa orang tersebut. Lalu, orang itu berucap, “Subhanallah, betapa mengagumkan ini ...!” Orang-orang yang hadir lantas menyimak. Orang ini menggunakan sebutan dzikir (Subhanallah) untuk tujuan kotornya.
Ada pula, “Hatiku selalu disibukkan oleh ulah seseorang, semoga Allah memaafkan kami dan juga dia.” Padahal tujuannya bukan mendoakan, tetapi menonjolkan diri. Jika la bermaksud mendoakan, pasti la samarkan doa itu. Kalau la gelisah gara-gara orang tersebut, pasti la sembunyikan cacat dan dosanya.
Orang yang mendengarkan gunjingan, terkadang malah ikut kagum karena omongan penggunjing, sehingga menambah semangat pergunjingan. Pendengar adalah termasuk penggunjingnya pula. Demikianlah yang pernah disabdakan Rasulullah saw.
Begitu pula, ketika la berucap, “Tinggalkan pergunjingan!” Padahal ia sangat suka dengan gunjingan. Tujuannya sekadar untuk memamerkan wara’nya. Orang tersebut tidak bisa lepas dari dosa gunjingan, sepanjang hatinya tidak membenci pergunjingan. la bisa keluar dari dosa, kalau hatiya membenci pergunjingan, bahkan mengatakan apa yang diucapkan penggunjing itu bohong. Sebab sang penggunjing itu tergolong fasik.
Orang Muslim yang digunjing berhak mendapatkan dugaan baik. Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan dari sesama Muslim: darah, kehormatan, harta dan berburuksangka kepadanya.” Menggunjing dalam hati juga haram, sebagaimana dalam ucapan. Namun demikian, ada beberapa tempat dimana ghibah boleh dilakukan:
  1. Pihak yang dizalimi mengadukan perilaku orang yang menzaliminya kepada penguasa yang berwenang untuk tindakan preventif. Apabila hal tersebut diadukan kepada selain penguasa yang tidak memiliki kemampuan mencegah, maka ghibah tidak boleh.
  2. Bicara kepada orang yang dimintai pertolongan untuk mengubah kemungkaran.
  3. Mengadukan kepada mufti jika mufti butuh penjelasan persoalan. Sebagaimana pernah dikatakan kepada Hindun, “Sufyan itu sebenarnya laki-laki yang sangat bakhil. la tidak memberi nafkah dan biaya hidup yang cukup.” Semua ini merupakan pengaduan. Hal itu diperkenankan jika ada gunanya.
  4. Memperingatkan sesama Muslim atas kejahatan seseorang, dengan indikasi apabila tidak disebutkan kejahatannya, kelak kesaksian dustanya diterima, seperti orang yang menunaikan zakat, menyebut perilaku amil zakat yang berbahaya kepada orang yang terkena ulahnya.
  5. Menyebut nama orang yang dikenal itu punya cacat fisik seperti pincang atau matanya kabur. Menyebut dengan nama lain lebih utama.
  6. Jika cacat tersebut sudah jelas, dan bila diungkap, pihak yang disebut-sebut tidak marah. Semisal menyebut si banci atau ten¬tang rumah mesum (bordil).
Al-Hasan berkata, “Ada tiga golongan tidak termasuk menggunjing, jika menyebut aib mereka, yaitu: Orang yang mengikuti hawa nafsu, orang fasik yang melakukan kefasikan secara terang-¬terangan, dan pemimpin yang menyeleweng.”
Ketiga kelompok tersebut secara terang-terangan disebut-sebut masyarakat, dan sebutan itu tidak dibenci oleh ketiga kelompok tersebut.
Yang benar menyebut aib si fasik yang bergelimang maksiat, perlu dengan cara yang samar. Makruh menyebutnya secara terang-¬terangan, kecuali karena tuntutan syariat.


Terapi Ghibah.
Adapun cara menghindarkan diri dari kebiasaan berghibah adalah dengan merenungkan dan mengingat ancaman yang bakal dijatuhkan Allah swt. kepada orang yang suka berghibah. Dalam beberapa hadis beliau bersabda, diantaranya, “Sesungguhnya ghibah itu akan meng¬hanguskan kebaikan seseorang lebih cepat dari jilatan api atas kayu kering.” (Al-Hadis).
Dalam suatu hadis juga diungkapkan, bahwa kebaikan orangyang suka menggunjing itu akan dipindahkan kepada buku catatan orang yang digunjing. Sehingga akhirnya dia mendapatkan kebaikan jauh lebih sedikit, sementara ghibah membengkak. Pada akhirnya, amal baiknya habis.
Selanjutnya, untuk menghindari ghibah, seseorang perlu merenungi aib dirinya sendiri. Kalau la melihat aibnya, akan disibukkan upaya menerapi diri dan mengabaikan aib orang lain. Akhirnya la merasa dirinya kecil, dan bahaya atas -dirinya itu lebih besar dari pada nilai besar yang dimiliki orang lain.
Sebaliknya, jika la tidak merasa mempunyai aib, berarti kebodohan terhadap aib sendiri merupakan aib terbesar.
Sejak kapan manusia sunyi dari aib? Andaikata sekalipun la benar-¬benar tidak memiliki aib, la harus bersyukur kepada Allah swt. sebagai ganti dari ghibah. Sebab menggunjing manusia dan memakan bangkai itu termasuk aib terbesar dan harus dijauhi. Kalau ucapannya terlanjur pada ghibah, segera istighfar kepada Allah swt, lantas pergi kepada orang yang digunjing sambil minta maaf, “Saya telah berbuat zalim kepada Anda, maafkan saya!” la harus meminta agar apa yang dilakukan dimaafkan. Kalau la tidak bisa bertemu, la harus banyak memuji, mendoakan serta menyebut kebaikannya. Sehingga ketika sebagian amalnya dipindah ke catatan pihak yang digunjing, masih tersisa amal lain, sebagai tebusan dosa ghibah.

Ketiga: Berdebat secara Konfrontatif
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa meninggalkan perdebatan padahal dia adalah benar, maka kelak akan dibangun untuknya kediaman di dalam surga teratas. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia memang salah, maka kelak akan dibangun untuknya kediaman di surga bagian bawah.”
Demikian itu karena meninggalkan perdebatan bagi pihak yang merasa dirinya benar adalah sangat sulit. Maka, layak sekiranya bila janji pahalanya lebih tinggi daripada mereka yang meninggalkan perdebatan karena memang berada di pihak yang salah.
Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang akan mencapai kesempurnaan hakikat iman, kecuali jika dia bersedia meninggalkan debat dan pertentangan, padahal dia benar.”
Berdebat atau bersitegang adalah menyanggah pembicaraan orang lain dengan rnengutarakan kekurangan-kekurangannya, baik yang bersifat faktual maupun makna kontekstualnya. Hal ini adakalanya muncul oleh adanya perasaan bahwa dirinya lebih unggul daripada yang lainnya. Ada kalanya, karena kebodohannya ataupun kekerasan hati dari salah satu pihak, yang menjadi wataknya yang cenderung destruktif kepada orang lain.
Orang yang melakukan debat kusir memiliki potensi sikap kotor yang bisa membinasakan. Bila kita mendengar pembicaraan orang lain, sebaiknya kita ambil yang benar, dan diam saja jika salah. Boleh kita mengutarakan kekurangan pembicaraan seseorang jika ternyata sangat mengandung manfaat keagamaan. la perlu menyimak dan mengoreksi secara bijak dan lembut. Bukan dengan cara yang kasar.
Keempat: Bersenda-Gurau
Bergurau melampaui batas dapat menimbulkan gelak tawa secara berlebihan, akhirnya mematikan hati, menimbulkan permusuhan, perselisihan, perpecahan dan juga menjatuhkan wibawa serta harga diri seseorang. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang berbicara untuk ditertawakan oleh para pemirsanya, maka ia akan jatuh terhina melebihi jatuhnya dari bintang Tsuraya.”


Kelima: Pujian
Memuji ternyata telah menjadi kebiasaan para pembesar dan penguasa yang menjadi budak dunia. Begitu para pembuat kisah dan juru bicara, mereka memuji para hadirin, khususnya para hartawan. Padahal pujian itu mengandung enam bencana. Empat bencana bagi pemuji dan dua untuk yang dipuji.
  1. Seringkali pujian tersebut dilakukan secara berlebih-lebihan, bahkan akhirnya menjurus pada dusta, karena tidak sesuai dengan kenyataan.
  2. Berpura-pura senang kepada orang yang dipuji, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Hal ini jelas menjurus pada sifat munafik dan riya’.
  3. Seringkali mengatakan sesuatu secara tidak obyektif dan omong kosong. Misalnya, mengatakan dia itu orang yang adil, dan dia itu wara’, padahal kenyataannya tidak.
    Seseorang pernah memuji orang lain di hadapan Rasulullah saw. Lalu Rasul saw bersabda, “Celaka Anda!Anda telah memenggal leher teman Anda! Apabila di antara kalian memuji saudaranya, sebaiknya mengatakan, Aku menghargai Fulan, dan aku tidak menganggap seorang pun bersih di sisi Allah.’ Yang berhak dihargai hanya Allah, jika memang demikian.”
  4.  Dapat menjadikan pihak yang dipuji itu merasa bangga dan besar kepala. Padahal bisa jadi orang yang dipuji itu adalah orang zalim, yang membuatnya semakin senang atas kedurhakaan dan kefasikannya. Sedangkan Rasulullah saw sendiri telah bersabda:“Sesungguhnya Allah sangat murka bila ada orang fasik dipuji¬-puji.” (A1-Hadis).

Al-Hasan berkata, “Barangsiapa mendoakan panjang umur bagi orang fasik, maka berarti senang bila Allah selalu didurhakai.” Orang zalim yang fasik berhak dicaci agar kegemarannya berbuat zalim berhenti.
Adapun bencana yang terkait dengan si penerima pujian itu meliputi dua hal:
  1. Kemungkinan dia akan menjadi takabur dan ta’ajjub, yang keduanya dapat membinasakan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw terhadap orang yang suka melontarkan pujian kepada orang lain, “Berarti engkau telah memenggal batang lehernya.”
  2. Bisa jadi dia bangga dan lupa amalnya, dan merasa dirinya sudah cukup.
    Tidak mengherankan bila Nabi saw bersabda, “Bila seseorang berjalan menemui sesama dengan membawa pisau yang tajam (meng¬kritik secara tajam), adalah lebih baik daripada ia memujinya di hadapannya secara langsung.”
Demikianlah, bila suatu pujian itu telah terhindar dari unsur-unsur yang berdampak negatif seperti di atas - baik menyangkut diri si pemuji atau yang dipuji - maka pujian boleh dilakukan, bahkan terkadang dianjurkan. Sebab, dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw juga sering memberikan pujian dan sanjungan kepada para saha¬bat, bilamana menurut beliau justru akan semakin menambah semangat kerja dan daya juang mereka, bukannya semakin membuat mereka sombong. Misalnya, beliau memuji Abu Bakar r.a,’Andaikata kualitas keimanan Abu Bakar dan manusia sejagad ditimbang, tentu akan lebih berat kualitas keimanan Abu Bakar.”
Tentang Umar bin Khaththab r.a, beliau bersabda, ‘Andaikata aku belum diutus, tentu engkau Umar yang akan diutus menjadi Rasul.” Bagi pihak yang dipuji, sebaiknya merenungkan dampak akhirnya, bahaya riya’ yang tersembunyi dan berbagai bencana amal perbuatan. la pun harus menyadari, adanya keburukan batinnya, terutama yang berkecamuk dalam nafsu dan pikirannya; seandainya pemuji tahu, pasti tidak memuji seperti itu. Demikian pula, pihak yang disanjung harus menampakkan sikap kurang senang bila disanjung, secara lahir dan batin. Sebagaimana isyarat Rasulullah saw dalam sabda beliau, “Hamburkanlah pada wajah orang yang suka menyanjung.” Sebagian sufi, berdoa ketika dipuji, “Ya Allah, sungguh hamba¬Mu ini lebih layak pada murka-Mu dan aku bersaksi kepada-Mu atas kelayakan murka itu.”
Bila memungkinkan, kita dapat meneladani Ali bin Abi Thalib r.a. saat disanjung orang.
Beliau biasanya berdoa:
“Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau siksa aku dengan apa yang mereka katakan, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. “

Ayat Ayat Dzikir

Syeikh Muhyiddin Ibnu Araby
“Maka dzikirlah kepadaKu, maka Aku Dzikir kepadamu.”
Maknanya, dzikirlah kepadaKu dengan menjawab patuh, dengan taat, dengan kehendak, maka Aku ingat kepadamu dfengan limpahan anugerah, limpahan
melalui penempuhan jalan kepadaKu dan limpahan Nurul Yaqin.
“Yaitu orang yang berdzikir kepada Allah dengan berdiri dan duduk dan tidur dan bertafakur dalam penciptaan langit dan bumi. Ya Tuhan kami Engkau tidak menciptakan semua ini batil. Maha Suci ngkau, maka lindungi kami dari siksa neraka.”
“Yaitu orang yang berdzikir kepada Allah” dalam segala kondisi, dengan berbagai situasi.
“Dengan berdiri”  di dalam maqom Ruh dan Musyahadah.
“Dan duduk “ dalam posisi qalbu melalui Mukasyafah.
“Dan tidur”  yakni ketika pada posisi pergolakan mereka di posisi nafsu, melalui Mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu.”
“Dan bertafakur” dengan lubuk jiwa yang dalam yang murni dan bersih dari kotoran imajinasi.
“Dalam penciptaan  langit dan bumi.” Yakni dalam penciptaan alam Ruh dan alam fisik, lantas bermunajat, ketika bermusyahadah:

“Ya Tuhan kami Engkau tidak menciptakan semua ini batil.”  Maksudnya batil aadalah sesuatu selain DiriMu, karena selain DiriMu adalah batil, bahkan Engkau jadikan semua itu sebagai ekspressi dari Asma’ dan SifatMu.

“Maha Suci Engkau, “ Sungguh Maha Suci Engkau, jika ditemukan Selain DiriMu, bahwa segala sesuatu mana pun pastilah Engkau Menyertainya.
“Maka lindungi kami dari siksa neraka.” Dari neraka hijab atas semesta ini dari Af’al-af’alMu, dan hijab Af’al dari SifatMu, dari Hijab Sifat dari DzatMu, dengan perlindungan paripurna yang mencukupi.

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya, dan bersabihlah kepadaNya di waktu pagi dan petang.”

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya,“ dengan Lisan di Maqom Nafu, dengan Hadir di Maqom Qalbu, dengan Munajat di Maqom Sirr, dan dengan Musyahadah di Maqom Ruh, serta Wushul di Maqom KHafa’, dan Fana’ di Maqom Dzat.

“Dan bersabihlah kepadaNya” melalui upaya memasuki Tajrid dari Af’al, Sifat dan Dzat.

“Di waktu pagi “ ketika waktu terbitnya fajar cahaya qalbu.
“Dan petang.” Ketika datangnya kegelapan nafsu, dan malam sirnanya matahari Ruh melalui fana’  dalam Dzat. Yakni dari waktu fajar cahaya hati hingga fana’ dalam keabadianNya selamanya.

“Yaitu orang-orang yang beriman dan  hati mereka tenteram dengan berdzikir kepada Allah. Ingatlah dengan mengingat Allah qalbu jadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)

“Yaitu orang-orang yang beriman” yakni mereka yang hatinya kembali mengenalNya.

“Dan  hati mereka tenteram dengan berdzikir kepada Allah. Ingatlah dengan mengingat Allah qalbu jadi tenteram.”.”

Dengan dzikir nafsu melalui Lisan,  dan Tafakkur dalam nikmat-nikmatNya, atau Dzikir Qalbu melalui renungan di alam Malakut, memandang Sifat-sifat Maha Indah dan Maha AgungNya .

Dalam kualifikasi dzikir ada:
•    Dzikir Nafsu dengan Lisan dan merenungkan nikmatNya.
•    Dzikir Qalbu dengan melihat Sifat-sifatNya.
•    Dzikir Sirr dengan Munajat.
•    Dzikir Ruh dengan Musyahadah.
•    Dzikir Sunyi Jiwa (Khafa’) dengan rindu asyik ma’syuk.
•    Dzikrullah dengan fana’ di dalamNya.

Nafsu senantiasa mengalami nuansa sempit manakala muncul karakternya dan ucapannya, hingga mempengaruhi hati. Bila berdzikir kepada Allah, nafsu jadi tenang dan sirnalah keraguan (waswas) sebagaimana sabda Nabi saw: “Sesungguhnya syetan meletakkan belalainya pada qalbu manusia, dan manakala manusia berdzikir, maka ia menyingkir, hingga qalbu jadi tenang.”

Begitu juga Dzikir qalbu di alam Malakut dan memandang alam Jabarut. Semua dzikir tidak terjadi kecuali setelah terbangunnya rasa tenteram.  Sedangkan amal; saleh di sana sebagai “pembersihan” dan “periasan jiwa”.
“Niscaya Dzikir Allah itu lebih besar” (Al-Ankabut)
[pagebreak]
Yaitu Dzikr Dzat dalam Maqom Fana’ Murni dan Rahmat Allah swt di Maqom Tamkin (kemandirian ruhani bersamaNya) di Maqom Baqo’ adalah lebih besar dari seluruh dzikir yang ada.
“Dan apabila sholat sudah ditunaikan maka menebarlah di bumi dan raihlah anugerah Allah, dan berdzikirlah sebanyak-banyaknya agar kalian meraih kebahagian.” (Al-Jum’ah: 10)

“Dan apabila sholat sudah ditunaikan maka menebarlah di bumi “ suatu perintah  untuk bertebar dalam urai di bumi dan meraih anugerah Allah usai sholat. Semua itu sebagai isyarat untuk kembali pada penguraian setelah hamba fana’ dalam maqom Al-Jam’u (maqom berpadu dengan Allah) dalam sholat hakikat.

Sebab berhenti saja di maqom al-Jam’u merupakan Hijab Allah dari makhluk, hijab Dzat dari Sifat.

Maka “berurai”  adalah wujud berbalik dalam Sifat pada saat kondisi Al-Baqo’ setelah Fana’ dengan Wujud Hakiki dan berjalan  bersama Allah dalam kemakhlukan, serta meraih fadhal Allah, yakni meraih bagian-bagian Tajallinya Asma’ dan Sifat, dan kembali ke Maqom bumi nafsu, dan menyelaraskan Nafsu manusia dengan Allah swt.

“Dann berdzikirlah sebanyak-banyaknya.” Yakni hadirkanlah Kesatuan Tunggal Esensial dalam nuansa “Banyak”nya Sifat-sifat. Bahwa  ia tidak terhijab oleh “keragaman banyak” dari KemahatunggalanNya, jauh dari sesat setelah meraih hidayah, dan senantiasa terus menerus disiplin dalam Istiqomah di dalam penyelarasan dan [pemenuhan Hak-hak Allah dan Hak Makluk secara bersamaan; menjaga “Padu” dan “Urai” secara bersamaan pula.

“Agar kalian meraih kebahagian” dengan kem,enangan agung, yaityu hikmah posisi “perpaduan”.

“Dan siapakah yang lebih dzolim disbanding orang yang menghalang-halangi mengingat Nama  Allah di masjid-masjid Allah, dan berusaha merobohkannya?” (Al-Baqoroh: 114)

Siapakah yang lebih dzolim  dan lebih hancur disbanding orang yang merusak kebenaran Allah swt, yang menhalabngi masjid-masjidNya  yaitu tempat sujud kepada Allah, yang tak lain adalah qalbu-qalbu beriman, yang di dlamnya mengenal Allah swt. Hingga qalbu sujud dengan kefanaan Dzat.

Sebab dalam qalbu itu disebut NamaNya dalam dzikirnya berupa Ismul A’dzom (Nama Agung), karena Ismul A’dzom itu tidak akan tampak kecuali dalam qalbu, yaitu Tajallinya Dzat dalam semua Sifat, atau AsmaNya yang khusus yang masing-masing ada secara Paripurna berselaras dengan kesiapan dalam qalbu hambaNya.

Lantas yang paling dzolim juga berupaya merobohkan masjid-masjid qalbu yang berdzikir itu dengan cara mengotorinya, mengalahkannya mencampurinya dengan berbagai imajinasi, dengan campuran fitnah yang merusak di dalamnya, yang menyeret nafsu dan syetan, keraguan dan gangguannya.

Di dunia mereka ini hina dina, karena batilnya agama dan akidahnya, disamping upayanya merusak kebenaran agama Allah swt, sedangkan di akhirat mereka meraih siksa besar, yaitu terhijab dari Allah swt, karena keyakinannya.

“Di rumah-rumah, Allah mengizinkan NamaNya diluhurkan dan disebut. Di dalamnya ia bertabih bagiNya pagi dan petang.”

“Lelaki-lelaki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli, dari dzikir kepada Allah…” (An-Nuur 36)

“Di rumah-rumah,” qalbu beriman, Allah memberi hidayah kepada yang dikehendaki dalam berbagai tahapan,.

“ Allah mengizinkan NamaNya diluhurkan” ditinggikan bangunan-bangunannya , diluhurkan derajat-derajatnya.
“Dan disebut,” dalam dzikir, Asma dengan lisannya, mujahadah dan berakhlaq dengan berbagai akhlaq di maqom nafsu; dan hadirnya hati, muroqobah, berkarakter dengan sifat luhur di maqom qalbu..
Disamping munajat, dialog dan perwujudan hakikat di maqom Sirr (Rahasia Qalbu), serta Musyahadah di dalam cahaya di Maqom Ruh, tenggelam, terliput, dan fana’ di Maqom Dzat.

“ Di dalamnya ia bertabih bagiNya pagi dan petang.” Melalui Tanzih, Tauhid, Tajrid dan Tafrid, baik di pagi Tajalli dan petangnya tirai.

“Lelaki-lelaki” yaitu mereka yang tergolong sebagai individu yang bergegas cepat  menuju Allah, menepiskan segala hal selain Allah, menyendiri bersama Allah, dan bangkit bersama Allah swt.
“Yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli, “  dengan tidak menukar zuhudnya dengan dunia hina, juga tidak menjual dirinya dengan hartanya, “dari dzikir kepada Allah…”

  (Tulisan ini, merupakan bagian dari Penafsirasn Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby  seputar ayat-ayat tentang Dzikrullah, dan masih banyak ayat tentang dzikir yang belum kami kutip. Editor sekadar mengutip dari Tafsir Sufi  

beliau”Tafsirul Qur’anil ‘Adzim,” Darul Fikr, Beirut.)

Rabu, 29 Mei 2013

Macam - Macam Dzikir

Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily 
Dzikir  itu ada empat :
1) Dzikir, di mana engkau mengingat  dzikir;
2) Dzikir engkau diingatkan melalui dzikir;
3) Dzikir yang  mengingatkan dirimu; dan
4) Dzikir yang engkau sendiri yang diingat oleh Allah swt (Dzikir bersama Allah swt).
Yang  pertama adalah dzikirnya kalangan awam, yaitu  dzikir  untuk mengingatkan  kealpaan  atau mengingatkan dari  kekawatiran  akan kealpaan.
Kedua,  adalah  dzikir,  dimana engkau  diingatkan,  baik  berupa siksa, nikmat, taqarrub ataupun jauh dari Allah, dan  sebagainya, ataupun karena Allah swt.

Ketiga, dzikir yang mengingatkan dirimu, pada empat obyek, bahwa :
Seluruh  kebaikan datangnya dari Allah;
  1. Seluruh  kejahatan datangnya  dari  nafsu;
  2. Dan keburukan  datangnya  dari  musuh, walaupun  Allah  swt.  yang menciptakannya; dan
  3. Dzikir  yang engkau sendiri yang diingat (Allah). Yaitu dzikirnya Allah kepada hamba-Nya.  Pada tahap ini hamba tidak memiliki kaitan dirinya atau lainnya,  walaupun itu  meluncur melalui ucapannya. Inilah posisi fana’ dalam dzikir, tidak  membutuhkan dzikir  atau yang diingat (Yang Didzikiri) Allah Yang Maha Tinggi dan  Luhur.  Apabila engkau  masuk  di dalamnya, maka  dzikir  menjadi  yang  diingat (madzkur), dan yang diingat (madzkur) menjadi yang mengingat (Dzakir). Inilah puncak dalam suluk. (Dan Allah Maha baik dan Maha Abadi).
Seharusnya  engkau  melakukan dzikir yang bisa  aman  dari  siksa Allah  di  dunia dan di akhirat,  di samping dzikir itu dalam rangka meraih  Ridlo Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat, pegang teguhlah, dan langgenggkanlah.  Yaitu engkau berdzikir dengan :
“Segala puji bagi Allah, aku mohon ampun kepada Allah. Tiada daya dan  kekuatan  kecuali dari Allah. Alhamdulillah, karena adanya nikmat dan kebajikan  dari  Allah. Astaghfirullah,  karena adanya faktor yang datang dari nafsu  dan dari musuh, walaupun sebenarnya datang dari Allah baik karena ciptaan maupun kehendakNya. Dan “Lahaula  wala  Quwwata  illa Billah,” karena  datangnya  berbagai peristiwa perintang yang datang kepadamu dari Allah, dan apa yang muncul padamu sesungguhnya dari Allah swt.”

Camkanlah, karena rahasia batin itu jarang terjadi dalam  dzikir, atau dalam fikir, atau ketika diam dan hening kecuali pada  salah satu empat hal tersebut: Jika terjadi kebajikan atau keburukan. ucapkanlah : Alhamdulillah atau Astaghfirullah.

Namun apabila datang sesuatu dari Allah kepadamu atau dari  dirimu,  yang tidak jelas kebaikan atau keburukan di sana,  sementara Anda tidak mampu menolak atau menarik, maka ucapkanlah :
Laa Haulla walaa Quwwata Illa Billaah

Lalu  gabungkanlah ketiga dzikir tersebut pada setiap  saat,  dan langgengkan, Anda akan menemukan barakah, Insya Allah Ta’ala.
Ketuklah pintu dzikir  dengan hasrat dan sikap sangat membutuhkan kepada Allah melalui sikap disiplin ketat yang manjauhkan diri dari bayangan dan imajinasi yang beragam jenis, disamping menjaga rahasia batin (sirr) agar jauh dari  bisikan  nafsu dalam  seluruh nafas, apabila Anda ingin  memiliki  kekayaan ruhani.

Di sana  ada tida dimensi: Tuntaskan lisanmu untuk dzikir,  hatimu untuk  tafakkur, dan tubuhmu untuk menuruti perintah-Nya.  Dengan demikian Anda bisa tergolong orang-orang shaleh.

Manakala dzikir terasa berat di lisanmu, dan obrolan lebih banyak di  sana, sedangkan nafsu kesenangan membentangkan  tubuhmu,  sedangkan pintu kontemplasi tertutup dalam upaya kebajikanmu :  maka ketahuilah,  semata itu karena besarnya dosa-dosamu, atau  karena penuhnya kemunafikan dalam hatimu.

Tak  ada jalan lain bagimu kecuali taubat, memperbaiki  diri  dan bergantung kepada Allah swt, serta ikhlas dalam beragama. Apakah  Anda tidak mendengar firman-Nya :
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, berbuat kesalehan dan  menggantungkan  diri kepada Allah, serta berbuat ikhlas dalam  menjalankan  agama Allah. Maka mereka itu bersama orang-orang  mu’min.(Q.s......)”

Di  sini  Allah tidak berfirman  “termasuk  orang-orang  mu’min” Karena itu renungkan, apabila Anda faham. Wallahu A’lam.


Islam Rohmatalilalamin

BANGSA KU Di mana dikau terdiam, NEGARA MU, Membutuh kan MU, janganlah Kau diamkan begini, Pemerintah Dan RAKYATMU,
Membenahi SUATU Bangsa Tidak bisa dengan SEDIRIAN'KELOMPOK" Tapi HARUS Bersama2.
NEGARA INDONESIA' Adalah Rumah Kita semua' Hormatilah Hargailah.. Nilai-nilai nya... Dan jagalah rumahMU ini... Biar menjadi INDAH.
sedikit berbagi hal dengan membuka situs dibawah ini
www.wahidinstitute.org

akan ada banyak hal hal, dan pemikiran pemikiran islam yang Rohmatallilalamin yang bisa kita temukan.terlepas dari siapa atau kelompok mana, jika tepat pemikirannya ya kenapa tidak kita pakai.
dalam bernegara kalau bicara akidah, itu masing individu berbeda, kita hargai kita hormati.urusan mereka dengan Tuhan . bicara tentang bangsa dan negara, ya ada institusi yang harus ditegakkan, pancasila dan UUD 45.
kalu mau memahas keyakinan beragama dan pemikiran tentang ketuhanan ya silahkan dengan kelompok yang sesuai dengan masing masing nya, tanpa menyangkut kelompok lain. tapi kenyataan nya, mau tidak mau, di akui tidak di akui, kita hidup disebuah negara, yang multi kultur, beragam suku bahasa agama. tentu dalam menjalani hidup kita harus toleran.
agama apapun yang beribadah kita harus siap memberikan rasa aman, terlebih jika dimintai bantuan. jagalah agar orang yang baik baik mudah dan senang melanjtkan melakukan kebaikan, bantulah orang orang yang dikata buruk agar menjadi lebih baik. setidaknya bagaimana agar para preman, dan orang orang bejat serta kotor menurut orang bisa berguna hidupnya.terlebih orang orang yang dikata masyarakat orang baik.yang buruk mari diperbaiki, yang baik mari ditingkatkan. semua demi kemajuan islam juga, maju dalam artian islam benar benar bisa berguna untuk umat manusia.mari kita tunjukkan wajah islam yang sebenarnya. semua belajar mulai dan berawal dari diri kita, kita harus berubah, saling menghormati, menghargai, memaafkan dan toleran.hilangkan buruk sangka, benci dan dendam. kepada siapapaun.
saya islam, tapi jika ada orang selain islam, atau umat agama lain yang di aniaya akan saya bela, meski yang menganiaya tersebut orang islam, akan saya jaga keluaraga, harta benda, rumah ibadah meraka dari gangguan gangguan, meski yang menggangu tersebut adalah orang islam.SEMUA SEMATA  MATA justru karena saya ORANG ISLAM, dan ORANG INDONESIA.
apalagi saya belajar Tasawuf, mengikuti para Sufi yang Agung. justru harus bersikap seperti di atas.

Selasa, 28 Mei 2013

Filosofi Dzikir



Imam Al Ghazali
Allah swt. berfirman: “... dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Q.s. Al-Anfal: 45).
Dan firman-Nya pula kepada Nabi-Nya saw.: “Sebutlah
nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.s. Al-Muzzammil: 8).
Rasulullah saw bersabda, “Berdzikir kepada Allah pada waktu pagi dan sore hari lebih utama daripada berperang di jalan Allah dan memberikan harta kepada orang lain, dengan hati penuh derma.” (AlHadits).

Sabda beliau pula :
“Maukah kalian aku beritahukan tentang amal terbaik dan lebih semerbak (harum) bagi Tuhanmu, lebih meninggikan martabatmu dan lebih baik daripada kalian memberikan binatang dan emas, serta lebih utama daripada kalian bertemu musuh kalian, lalu kalian hantam lehernya dan mereka juga memukul leher kalian?” Para sahabat bertanya, “Apakah itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dzikir kepada Allah.” (Al-Hadits).

Dalam hadits lain beliau bersbda :
“Beruntunglah orang-orang yang menyendiri, beruntunglah orang-orang yang menyendiri!” Sahabat bertanya, “Siapa mereka ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang terlena dalam berdzikir kepada Allah, lantaran dzikir, dosa mereka diampuni oleh-Nya, sehingga kelak pada hari Kiamat mereka datang dalam keadaan telah diringankan.” (Al-Hadits).

Ketahuilah, orang-orang ahli bashirah telah dibukakan hatinya, bahwa dzikir merupakan amal perbuatan yang paling utama. Sebagaimana amal-amal yang lain, dzikir pun mempunyai tiga lapisan kulit. Sebagian yang lain saling berdekatan dengan lubuk hati. Sebab, di balik ketiga lapisan, ada lubuk hati tersebut. Lapisan tersebut memiliki keutamaan, sebab berfungsi sebagai metode menuju dzikir. Lapisan teratas adalah dzikir lisan. Lapisan kedua adalah dzikir hati, karena. Ia harus selaras dengan dzikir, sehingga hati selalu hadir bersama dzikir. Jika tidak, Ia akan ditransmisi ke dalam wahana pikiran. Lapisan ketiga adalah bahwa dzikir harus bisa menempati dan menguasai hati, sehingga tidak melirik pada yang lainnya. Seperti pada lapisan kedua, dimana hati berfungsi secara proporsional dalam dzikir.

Lapisan keempat ialah isi (lubuk hati), yaitu Apa Yang (Obyek) didzikirkan (Allah) betul-betul mengakar dan bersemi dalam hati. Pada tahap ini seorang yang berdzikir, telah sirna dan tersembunyi dari dzikir itu sendiri. Inilah yang dimaksud tujuan dari lubuk hati. Yaitu, orang yang berdzikir tidak berpaling pada dzikir dan hatinya. Tetapi, tenggelam pada universalitas Allah yang diingatnya.

Apabila tiba-tiba berpaling pada dzikir, berarti la telah disibukkan kembali oleh hijab. Wahana ketenggelaman ini, disebut oleh para arifin ebagai wahana fana’. Yaitu, la sendiri telah fana’ dari dirinya, sampai tidak menyadari gerak-gerik raganya, ataupun kondisi yang keluar dari raga, ataupun berbagai penghalang batin dalam dzikir. Bahkan telah gaib dari seluruh dirinya, dan dirinya juga gaib dari semua raga dan gerak batinnya, menuju kepada Tuhannya, kemudian berjalan terus, sekali lagi.

Apabila di tengah-tengah fana’nya muncul intuisi yang membisikkan dirinya, bahwa la telah benar-benar fana’ total, maka intuisi tersebut hanyalah kekacauan dan kotoran. Padahal, wahana kesempurnaan adalah kefana’an dari diri sendiri, juga fana’ dari fana’, sampai pada pangkal kefana’an. Kondisi tersebut sering disangka kalangan fuqaha’ verbal sebagai kondisi kehampaan non-rasional. Padahal, bukan demikian. Wahana fanaul fana’ adalah - disandarkan pada nuansa kepada Sang Kekasih-seperti nuansaAnda ketika jatuh cinta kepada kekasih Anda, apakah karena faktor kedudukan, harta atau memang suatu pesona. Hal yang sama ketika Anda sedang marah, maka Anda pasti tenggelam dalam memikirkan musuh. Begitupun Anda akan tenggelam dan asyik masyuk memikirkan sang kekasih, sampai tiada lagi wahana yang tersisa dalam hati. Jika ada orang bicara, Anda tidak paham. Jika ada orang lewat di kanan-kiri Anda, Anda pun tidak melihat, padahal kedua mata Anda terbuka. Orang lain bicara, Anda tidak mendengar, padahal telinga Anda tidak tuli. Anda, ketika tenggelam dalam kefana’an lupa akan segalanya, bahkan lupa akan tenggelam itu sendiri.

Mengapa situasi tersebut dikatakan fana’? Walaupun antara diri dan bayangannya masih tetap ada? Karena diri dan bayang-bayang serta seluruh dimensi inderawi bukanlah hakikat wujud.
Wujud hakiki ada pada alam amr dan alam malakut. Sedangkan ruh itu berasal dari alam amr, sebagaimana firman-Nya :
“Katakanlah, ‘Ruh itu adalah amr Tuhanku’.” (Q.s. Al-Isra’: 85).

Sementara qalbu fisik tergolong alam makhluk. Sedangkan konteks qalbu atau hati dalam buku ini adalah lathifah yang berfungsi sebagai pengingat, yang mengetahui, yang menjadi tempat bersemainya cahaya Ilahi. Bukannya qalbu fisik.

Namun tidak berarti mengisyaratkan, Ruh itu qadim dan qalbu itu hadits. Keduanya, tetap bersifat baru (hadits).

Yang kami maksud dengan makhluk adalah sesuatu yang padanya terjadi persekutuan dan takdir, yaitu jasad dan sifat-sifatnya. Sedangkan yang kami maksud dengan alam amr, adalah sesuatu yang tidak dilintasi oleh takdir.

Alam fisik jasmani, sesungguhnya tidak memiliki wujud yang esensial. Namun, sebagai dimensi bayangan belaka. Bayangan manusia bukanlah hakikat manusia itu sendiri. Seseorang tidak memiliki hakikat wujud. Tetapi, hanya memiliki bayangan hakikat. Semuanya ciptaan Allah swt.

Allah swt. berfirman:
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Q.s. Ar-Ra’d: 15).
Sujudnya alam amr bersifat patuh/taat kepada Allah, sedang sujudnya bayang-bayang bersifat terpaksa. Di bawahnya ada rahasia-rahasia yang dalam, yang permulaannya menggerakkan mata rantai kegilaan yang dahsyat, apalagi akhirnya. Karenanya, Anda perlu mencermati, dan dengan begitu, Anda baru paham apa yang disebut fana’ itu. Maka, Anda harus meninggalkan ucapan yang berbau fitnah dan dusta, terhadap obyek ilmu yang Anda tidak mumpuni.
Allah swt. berfirman :
“Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka befum mengetahuinya dengan sempurna...„“(Q.s. Yunus: 39).
Dan firman-Nya :
“Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, ‘Ini adalah dusta yang lama’.” (Q.s. Al-Ahqaaf. 11).

Jika fana’ sudah dipahami sedemikian rupa, maka itulah awal menempuh jalan ruhani (thariqah). Yakni, pergi menuju kepada Allah swt, sedangkan petunjuk datang kemudian. Petunjuk dimaksud adalah petunjuk Allah swt, seperti kata Ibrahim Al-Khalil as, dalam firmanNya :  “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Q.s. Ash-Shaaffaat: 99).

Amar pertama adalah pergi kepada Allah, kemudian pergi “di dalam” Allah, dan itulah fana’ serta tenggelam dalam kefana’an. Tetapi ketenggelaman itu, pertama-tama seperti Hat yang cepat. Namun bila kilatan itu permanen, menjadi kebiasaan yang meresap dalam j iwa, maka hamba naik pada alam yang lebih tinggi, dan melihat wuj ud hakiki yang murni, la mendapat cap ukiran malakut. Pada dirinya tampak kesucian alam lahut. Proyeksi pertama yang muncul pada alam tersebut adalah: Inti-inti malaikat, arwah para Nabi dan wall, dalam bentuk yang sangat indah, yang dengan perantaraannya, mengalir sebagian kebenaran hakiki. Ini pada tahap permulaan, sampai kemudian naik ke deraj at yang lepas dari segala metafora. Cukup dengan kejelasan Allah swt. Yang Maha Haq, dalam segalanya.

Apabila ia dikembalikan pada alam metafor yang semata bayangbayang, la memandang ke makhluk dengan pandangan penuh kasihan, karena mereka terhalang untuk memandang keindahan Ilahi Yang Maha Suci. Dan la pun merasa heran, mengapa mereka menerima begitu saja, dengan bayang-bayang, mereka memihak pada rekayasa alam tipudaya dan khayalan. Maka, ketika la bersama mereka, la tarrlpak hadir, tetapi hatinya gaib, sembari merasa heran dengan kehadiran mereka. Sementara mereka juga heran akan kegaibannya.

Itulah buah dari dzikir lubuk hati. Awalnya adalah dzikir lisan, kemudian dzikir hati dengan diatur, lantas menjadi watak hati itu sendiri. Pada tahap berikutnya lebur dalam wahana yang diinga bahkan dzikirnya pun telah terberangus. Inilah rahasia sabda Rasul ullah saw, “Barangsiapa cinta untuk dinaikkan ke derajat taman surgc maka perbanyaklah dzikir kepada Allah swt.”

Dan merupakan rahasia dari sabdanya pula, “Dzikir hati melebik tujuhpuluh kali lipat daripada dzikir yang bisa didengarkan secara hafalan.”
Suatu dzikir yang dirasakan oleh hati Anda dan didengar dalar hafalan, maka perasaan mereka akan menyamai perasaan Anda. Da: di dalam hal ini ada rahasia sampai ketika dzikir Anda tidak teringa dari perasaan Anda, karena kepergian Anda kepadaYang diingat (Alla swt.) secara total. Sehingga dzikir Anda pun musnah dari perasaan hafalan Anda.

Sepanjang hati merasakan nikmatnya dzikir dan berpaling pad bentuk dzikir itu sendiri, maka hati telah terhalang dari Allah sw Apabila hati tidak ragu-ragu, jauh dari syirik samar (syirk khafy sehingga la menjadi hamba yang tenggelam dalam kemahaesaan Al Haq, maka la disebut hamba yang bertauhid.
Begitu pula tentang ma’rifat. Siapa yang mencari ma’rifat, derr ma’rifat, la seperti dzikir yang mengingat dzikirnya. Sedangkan oran yang memperoleh ma’rifat, justru seperti orang yang tida mendapatkannya, tetapi yang didapati adalah Yang dima’rifati (Allah swt). Dia telah menempatkan diri dalam wahana dari hakikat wisha dan berada pada nuansa qudus.
Jika Anda bertanya, “Mengapa mukasyafah tersebut ditentuka : dalam tahap fana’?”

Perlu Anda ketahui, untuk menjelaskannya perlu kisah yan panjang. Jika Anda merenungkannya, Anda tidak bisa membatasi dil pada alam inderawi, tumpuan nafsu dan syahwat, yang menggirin pada jagad empirik yang penuh dengan dusta dan tipudaya.

Oleh sebab itu, Allah swt. menj elaskannya dengan alam kematiar Karena kompetensi alam empirik inderawi dan khayalan yan menghadapkan hati pada alam terbawah, dianggap batal.
Jika Anda berpaling dari realita inderawi ketika tidur, Anda bis melihat sesuatu yang gaib menurut kadar kesiapan, penerimaan dan cita-cita anda. Anda menjumpainya lewat metaphor yang perlu di terjemahkan lagi.
Saya tidak berprasangka, bahwa Anda tidak akan mendapati mimpi yang benar, yang bisa memprediksi masa depan. Namun, khayalan sering tidak menenangkan tidur walaupun anggota badan telah tenang.
Itulah yang menjadi sebab lemahnya penglihatan hati, yang tidak pernah sunyi dari gambaran-gambaran buram.

Fana’ merupakaii konotasi dari wahana tenangnya anggota fisik, yang tidak lagi bergerak. Kemudian di dalam ketenangan itu muncul imajinasi yang tidak bercampur-baur. Apabila imajinasi itu tetap dominan, maka tidak akan dipengaruhi, kecuali oleh desakan wahana yang tampak dari alam suci, sehingga para Nabi, malaikat, dan ruhruh qudus, tergambar dalam proyeksi imajinasi hati.

Inilah persoalan yang mengingatkan Anda, agar Anda berhasrat menjadi ahli rasa (ahli dzauq). Jika Anda tidak mampu demikian, seyogyanya Anda menjadi pakar ilmu bidang batin. Jika kepakaran ini tidak bisa Anda raih, Anda cukup beriman saja.
Allah swt. berfirman :
“... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.s. Al-Mujadilah: 11).

Dan sekali-kali jangan sampai Anda tergolong orang-orang yang mengingkari fenomena fana’ ini, yang karenanya Anda disiksa, ketika kebenaran dibuka saat sakaratul maut, di mana nasib Anda sangat ditentukan.
Allah swt. telah berfirman:
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Q.s. Qaaf 22).

Iman, ilmu dan rasa, adalah tiga derajat yang membentang. Orang yang impoten, misalnya, terproyeksi benar adanya birahi bersetubuh pada lain jenis, dengan gambaran bahwa hal itu diterima dari orang yang menduga balk terhadap orang tersebut dan tidak dicampur-bauri oleh kebohongan. Gambaran ini seperti iman. Apabila terproyeksi, bahwa adanya birahi tersebut diketahui lewat bukti-bukti, disebut sebagai ilmu. Referensinya adalah qiyas, ketika memandang keinginannya pada makanan misalnya, maka dianalogikan pula nafsu makan tersebut dengan birahi seksual. Semuanya tetap jauh dari penemuan hakikat birahi dengan adanya birahi itu sendiri pada dirinya.

Begitu juga orang awam yang sehat yang melihat orang sakit, dan ia percaya (iman) begitu saja. Sementara si dokter melihatnya dengan bukti-bukti. Penglihatan dokter ini disertai ilmu. Siapa pun yang tidak pernah sakit, la pasti tidak pernah mengenal rasa sakit. Demikian juga tentangfana’ dalam tauhid; rasa adalah musyahadah, ilmu adalah qiyas, dan iman adalah perspektif secara berbaik sangka (husnudzan) tanpa disertai keraguan. Maka, berusahalah agar Anda bisa bermusyahadah, sebab tidak ada kabar yang lebih gamblang daripada menyaksikan dengan nyata.

Apabila Anda bertanya, “Betapa besar persoalan dzikir, lalu lebih utama mana antara dzikir dan membaca Al-Qur’an?” Perlu diketahui, bahwa membaca Al-Qur’an lebih utama bagi makhluk secara menyeluruh, kecuali bagi orang yang pergi menuju kepada Allah swt. Membaca Al-Qur’an akan menjadi amal paling utama bagi mereka yang pergi menuju Allah swt. dalam totalitas perilaku awalnya, dan sebagian perilaku akhirnya. Sebab, Al-Qur’an mengandung bagianbagian pengetahuan, tingkah laku ruhani dan petunjuk jalan. Sepanjang hamba senantiasa butuh pada pembersihan akhlak dan pengetahuan, Al-Qur’an lebih utama. Tetapi, apabila membaca Al-Qur’an tidak disertai perilaku batin seperti itu, sedang dzikir lebih dominan dalam hatinya, sehingga dzikir mendorongnya pada wahana ketenggelaman ruhani, maka dzikirlah yang lebih utama. Karena membaca Al-Qur’an, menarik intuisinya dan mengarahkan pada hamparan taman surga.

Sementara, murid yang pergi menuju Allah swt. tidak layak menoleh pada surga dan taman-tamannya. Tetapi, cita-citanya hanya satu, dzikirnya hanya satu tujuan, sampai la mendapatkan derajat fana’ dan ketenggelaman. Karena itu, Allah swt. berfirman :
“Dan sungguh, dzikir kepada Allah itu lebih besar.” (Q.s. Al-’Ankabut: 45).

Orang yang sampai pada derajat kefana’an, tetapi tidak abadi dan tidak tetap, maka sebaiknya la introspeksi diri, sebab, kadang-kadang membaca Al-Qur’an lebih bermanfaat terhadap dirinya. Kondisi demikian memang langka, seperti nuansa al-Kibritul Ahmar. Bisa dibicarakan secara teoritis, tetapi tidak bisa didapatkan.

Maka, mutlak membaca Al-Qur’an akan lebih utama. Sebab, amal tersebut menjadi lebih utama dalam segala kondisi, kecuali ketika sedang disibukkan bicara. Karena inti dari Al-Qur’an adalah mengenal Dzat Yang Berfirman melalui Al-Qur’an, mengetahui keindahan dan tenggelam karena-Nya. Al-Qur’an menuntun kepada-Nya, dan memberi petunjuk ke wahana-Nya. Siapa yang mengutamakan tuj uan pasti tidak akan menoleh pada jalan.

Bila Anda masih bertanya, “Dzikir mana yang lebih utama?” Ketahuilah - sebagaimana kami sebut - yang paling utama adalah supremasi Allah dalam hati sebagai obyek, yang didzikirkan. Yaitu, Satu, tidak lebih, sampai terseleksi mana yang utama. Itu semua, merupakan kenyataan jamak dan penunggalan (tauhid). Sementara keragaman dan kuantita, muncul sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi sepanjang Anda ada pada tahap dzikir lisan dan hati, yang kemudian terbagi pula dalam dzikir utama dan tidak utama. Keutamaannya, terletak pada kriteria sifat-sifat berdzikir yang dilakukan.

Sifat-sifat Allah swt. dan Asma-Nya, dalam Hak Allah swt. terbagi menjadi dua kategori :
Pertama, hal-hal yang memang benar dalam hak hamba, dan diorientasikan pada hak Allah swt, seperti sifat dan Asma : As-Shabbur, As-Syakuur, Ar-Rahim dan Al-Muntaqim.
Kedua, suatu sifat dan Asma yang hanya benar dalam hak-Nya. Apabila digunakan selain Diri-Nya, penggunaan itu hanya bersifat metafor.

Dzikir paling utama adalah ucapan :
“Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus makhluk.”

Sebab, dalam dzikir tersebut ada Nama Allah Yang Agung, sebagaimana sabda Rasul saw, ‘Asma Allah YangAgung itu ada dalam ayat Kursi dan awal surat Ali Imran.” Dua Asma tersebut tidak bersamaan, kecuali pada ayat tersebut. Pasti ada rahasia yang dalam dan tersembunyi dari pemahaman Anda.

Sekadar pemahaman sederhana, bisa dirumuskan, bahwa ucapan : Laa ilaaha Illallah, mensyiarkan tauhid, memberi arti Wahdaniyah (sifat Ketunggalan) dalam Dzat dan Ketuhanan, bersifat hakiki dalam Hak Allah swt, tanpa ditakwil. Namun, pada hak selain Diri-Nya, bersifat metafor dan harus ditakwilkan.

Begitu pula Al-Hayy, pengertiannya adalah Dzat yang hidup dengan Dzat-Nya, dan mengetahui Dzat-Nya. Sedangkan mayat adalah dzat yang tidak memiliki akses informasi dari substansinya. Al-Hayy merupakan predikat hakiki bagi Allah swt. tanpa harus ditakwilkan.
Al-Qayyum memberikan pengertian bahwa Dia Maha Tegak dengan Dzat-Nya, dan segala yang ada tegak karena sifat tegak-Nya. Predikat ini pun bersifat hakiki bagi Allah swt. tanpa ditakwilkan, sebab selain-Nya tidak ada yang memiliki predikat tersebut.

Selain Asma tersebut, dari sejumlah Asma Allah yang memiliki indikasi pada Perbuatan (Af’aal) Allah swt, seperti Ar-Rahiim, AlMuqsith, Al Adl dan lain sebagainya. Asma tersebut tidak menunjukkan arti sifat-sifat langsung. Karena sumber-sumber Af’al adalah sifat-sifat. Sifat sebagai predikat asli, kemudian diikuti oleh Af’al. Selain sifat-sifat yang mengindikasikan pada sifat Qudrat, Ilmu, Iradat, Kalam, Sama’ dan Bashar - yang sebagian diduga bahwa ketetapan sifat tersebut bagi Allah swt. sebagai pengertian dari perspektif lahiriahnya, padahal jauh berbeda, sebab pemahaman lahiriah merupakan persoalan yang dikaitkan dengan sifat-sifat manusia. Sedangkan Kalam, Qudrat, Ilmu, Sama’ dan Bashar-Nya, merniliki esensi-esensi yang ketetapannya mustahil bagi manusia. Maka, nama-nama tersebut dikecualikan dari segala bentuk penakwilan.

Hal tersebut mengingatkan pada hal-hal yang terkandung dalam pemahaman Anda dari spesifikasi kalimat-kalimat ini, sebagai sesuatu yang besar. Ucapan Anda berikut ini, lebih mendekati :
“Subhaanallaah wal Hamdulillaah wa laailaaha Illah wallahu Akbar. “
(Maha Suci Allah dan. segala puji bagi Allah, dan tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar).

Sebab, Subhaanallaah sebagai konotasi penyucian yang secara hakiki memang Hak-Nya. Kesucian hakiki tidak dapat diproyeksikan, kecuali hanya bagi Allah swt. Ucapan : Alhamdulillah memberi pengertian sandaran nikmat seluruhnya hanya kepada Allah swt. Pengertian tersebut bersifat hakiki. Sebab, Dia-lahYang Tunggal dalamAf’al, ketunggalan esensial tanpa takwil. Allah swt. Yang berhak menerima pujian semata. Sebab, bagi-Nya tidak ada sebutan dalam pekerjaan-Nya. Sebagaimana pula, tidak adanya sekutu bagi pena bersama penulis untuk memiliki hak pujian pada sisi kebajikan.