A.
Mengenal Ilmu Tauhid
Apakah
ilmu tauhid itu? Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan
keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti
kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan
orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa
kita akan kokoh, dan hati pun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid
karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan
Allah). Allah swt. berfirman:
أَفَمَن
يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ
“Adakah
orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu
benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang
dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19)
Bidang
Pembahasan Ilmu Tauhid
Apa
saja yang dibahas? Ilmu tauhid membahas enam hal, yaitu:
1.
Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya
tanpa sekutu apapun bentuknya.
2.
Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui
sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah,
mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat,
mengetahui mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu’jizat dan
bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.
3.
Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul
sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.
4.
Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka
dengan manusia di dunia dan akhirat.
5.
Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai balasan bagi
orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).
6.
Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya
semua yang ada di alam semesta ini.
Allah
swt berfirman:
“آمَنَ
الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ
بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
“Rasul
telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” (Al-Baqarah: 285)
Rasulullah
saw. ditanya tentang iman, beliau menjawab,
أنْ تُؤْمِنَ
بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ
بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“Iman
adalah engkau membenarkan dan meyakini Allah, para malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan taqdir baik maupun buruk.”
(HR. Muslim).
Kedudukan
Ilmu Tauhid di Antara Semua Ilmu
Kemuliaan
suatu ilmu tergantung pada kemulian tema yang dibahasnya. Ilmu kedokteran lebih
mulia dari teknik perkayuan karena teknik perkayuan membahas seluk beluk kayu
sedangkan kedokteran membahas tubuh manusia. Begitu pula dengan ilmu tauhid,
ini ilmu paling mulia karena objek pembahasannya adalah sesuatu yang paling
mulia. Adakah yang lebih agung selain Pencipta alam semesta ini? Adakah manusia
yang lebih suci daripada para rasul? Adakah yang lebih penting bagi manusia
selain mengenal Rabb dan Penciptanya, mengenal tujuan keberadaannya di dunia,
untuk apa ia diciptakan, dan bagaimana nasibnya setelah ia mati?
Apalagi
ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus yang terpenting
dan paling utama.
Karena
itu, hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan
muslimah sampai ia betul-betul memiliki keyakinan dan kepuasan hati serta akal
bahwa ia berada di atas agama yang benar. Sedangkan mempelajari lebih dari itu
hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain
tidak berdosa. Allah swt. berfirman,
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka
ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.”
(Muhammad: 19)
Al-Quran
adalah Kitab Tauhid Terbesar
Sesungguhnya
pembahasan utama Al-Quran adalah tauhid. Kita tidak akan menemukan satu halaman
pun yang tidak mengandung ajakan untuk beriman kepada Allah, rasul-Nya, atau
hari akhir, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, atau taqdir yang
diberlakukan bagi alam semesta ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh
ayat Al-Quran yang diturunkan sebelum hijrah (ayat-ayat Makkiyyah) berisi
tauhid dan yang terkait dengan tauhid.
Karena
itu tak heran masalah tauhid menjadi perhatian kaum muslimin sejak dulu,
sebagaimana masalah ini menjadi perhatian Al-Quran. Bahkan, tema tauhid adalah
tema utama dakwah mereka. Umat Islam sejak dahulu berdakwah mengajak orang
kepada agama Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Mereka mendakwahkan
bukti-bukti kebenaran akidah Islam agar manusia mau beriman kepada akidah yang
lurus ini.
Bagi
seorang muslim, akidah adalah segala-galanya. Tatkala umat Islam mengabaikan
akidah mereka yang benar -yang harus mereka pelajari melalui ilmu tauhid yang
didasari oleh bukti-bukti dan dalil yang kuat– mulailah kelemahan masuk ke
dalam keyakinan sebagian besar kaum muslimin. Kelemahan akidah akan berakibat
pada amal dan produktivitas mereka. Dengan semakin luasnya kerusakan itu, maka
orang-orang yang memusuhi Islam akan mudah mengalahkan mereka. Menjajah negeri
mereka dan menghinakan mereka di negeri mereka sendiri.
Sejarah
membuktikan bahwa umat Islam generasi awal sangat memperhatikan tauhid sehingga
mereka mulia dan memimpin dunia. Sejarah juga mengajarkan kepada kita, ketika
umat Islam mengabaikannnya akidah, mereka menjadi lemah. Kelemahan perilaku dan
amal umat Islam telah memberi kesempatan orang-orang kafir untuk menjajah
negeri dan tanah air umat Islam.
Pengertian
Tauhid
Mengesakan
Allah , tuhan yang tiada sekutu bagiNya, yang bersifat dengan segala sifat
kesempurnaan, kesucian, kebesaran dan keadilan .
Pengertian
Iman
Keyakinan
yang kukuh dengan hati, mengakui dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota
badan.
Rukun
Iman dan Pengertiannya
Rukun
Iman :
|
Sifat
Allah
|
|
Wajib
|
Mustahil
|
Harus
|
|
20
|
Lawan sifat 20
|
1
|
- 2. Percaya kepada Malaikat
|
Malaikat
yang wajib dipercayai secara tafsili
|
|
Jibril
|
Menyampaikan wahyu
|
|
Mikail
|
Pembagi rezeki
|
|
Israfil
|
Meniup sangkakala
|
|
'Izrail
|
Mencabut nyawa
|
|
Munkar
|
Penjaga kubur
|
|
Nakir
|
Penjaga kubur
|
|
Raqib
|
Mencatat amal
kebajikan
|
|
Atid
|
Mencatat amal
kejahatan
|
|
Malik
|
Menjaga pintu
neraka
|
|
Ridwan
|
Menjaga pintu
syurga
|
|
Kitab
Samawi
|
|
Al-Quran
|
Injil
|
Zabur
|
Taurat
|
|
Muhammad
|
Bahasa Arab
|
Isa
|
Bahasa Siryani
|
Daud
|
Bahasa
Qibti
|
Musa
|
Bahasa Ibrani
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1. Adam
|
2. Idris
|
3. Nuh
|
4. Hud
|
5. Saleh
|
|
6. Ibrahim
|
7. Luth
|
8. Ishak
|
9. Ismail
|
10. Ya'qub
|
|
11. Yusuf
|
12. Ayub
|
13. Syu'aib
|
14. Harun
|
15. Musa
|
|
16. Ilyasa'
|
17. Zulkifli
|
18. Daud
|
19. Sulaiman
|
20. Ilyas
|
|
21. Yunus
|
22. Zakaria
|
23. Yahya
|
24. Isa
|
25. Muhammad S.A.W.
|
- 5. Percaya kepada Hari Akhir
- 6. Percaya kepada Qadha’ dan Qadar
Qodho
adalah ketetapan, ketentuan atau rencana Allah untuk segenap makhluknya, baik
manusia, jin, hewan tumbuhan, gunung, langit, laut, dll.. Sedangkan taqdir
adalah kenyataannya, kejadiannya. Kalau sudah terjadi disebutlah taqdir.
Misalnya
A.
Qodho dan Qodar untuk
Alam Sekitar :
Allah menetapkan (qodho) bahwa peredaran
bumi mengelilingi matahari adalah 365 hari. Itulah Qodho. Pada kenyataannya
(taqdirnya) memang berjalan seperti itu.Allah menetapkan (Qodho) bahwa air itu mengalir
ke tempat yang lebih rendah. Pada kenyataannya (taqdirnya) memang demikian.
Antara qodo dan qadar atau taqdir pada alam tidak terjadi perubahan. Itulah
sunnatullah (ketetapan Allah). Segenap makhluk, selain manusia dan jin tidak
mempunyai pilihan, mereka harus taat kepada ketetapan Allah, terpaksa maupun
sukarela.
B.
Qodho-qodar untuk
Manusia :
Allah
menetapkan bahwa manusia hanya boleh beribadah kepada Allah. Itulah Qodho.
Tetapi pada kenyataannya banyak juga manusia yang menyembah selain Allah. Itulah
taqdir.Allah menetapkan (qodho) bahwa setiap anak wajib berbuat ihsan kepada
orangtuanya, tetapi pada kenyataannya (taqdirnya) ada juga anak yang durhaka
kepada orangtuanya.
Pada saat bayi berusia empat bulan dalam
kandungan, Allah menetapkan potensi-potensinya atau bakat-bakatnya. Besar
kecilnya bakat ini untuk setiap bayi berbeda-beda. Itulah ketetapan (qodho)
Allah. Nanti setelah anak itu dewasa akan berusaha mengembangkan potensi itu,
sehingga ada orang yang menjadi pemain bola tingkat internasional. Itulah
taqdir. Tetapi ada juga yang malas berlatih sehingga hanya menjadi pemain bola tingkat kecamatan saja.
Itupun taqir juga.Qodho Allah untuk manusia sering berbeda dengan taqdirnya
sebab manusia dengan akalnya mempunyai hak pilih, tetapi kadang-kadang
pilihannya dipengaruhi oleh nafsu
syaithaniyah. Tidak heran kalau ada manusia yang menyembah batu, membunuh, dan
berbuat maksiat lainnya.
Makna
beriman kepada qada dan qadar artinya ialah kita mengimani bahwa apapun yang
terjadi di muka bumi bahkan kepada diri kita sendiri sebagai manusia baik
maupun buruk merupakan kehendak dari Allah swt.
Namun
keburukan tersebut tidak dinisbahkan kepada Allah, melainkan kepada manusia
sebagai mahkluk ciptaanNya, sedangkan jika keburukan tersebut dikaiitkan dengan
Allah, maka keburukan tersebut merupakan suatu bentuk keadilan terhadap sesuatu
pihak yang tidak dapat terduga oleh pengetahuan manusia. Allah menciptakan
mudharat pastilah ada maslahat. Di setiap keburukan terdapat makna yang
mendalam, baik itu diketahui oleh manusia, maupun tidak diketahui oleh manusia.
A.
ILMU TAUHID :
MENYELAMI SIFAT 20
SIFAT-SIFAT KETUHANAN
Adapun yang wajib
bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:
1. Sifat Nafsiyah,
yaitu Wujud
2. Sifat Salbiyah
yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan
Wahdaniat
3. Sifat Ma’ani,
yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam
4. Sifat Ma’nawiyah,
yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun
Dibagi lagi menjadi
dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)
1. Sifat Istighna’
yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi,
Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun
2. Sifat Iftikor,
yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan
Wahdaniah
Bagian I: Sifat
Nafsiyah:
Wujud, artinya ada,
yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil
tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena
jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perubahan pada alam ini. Alam
ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika
semua itu (perubahan) terjadi dengan sendirinya.
Jikalau alam ini jadi
dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat
salah satu, maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita
lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah
aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun
dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:
Allahu kholiqu kullu
syai’in
artinya, Allah Ta’ala
jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.
Adapun Wujud itu
sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu:
Hiya huwa wala hiya ghoiruku, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia
lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna
Adapun Hakikat sifat
nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi
bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada
dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh
sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya
sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.
Adapun Wujud itu
dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat
tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti
sifat yang lain-lain.
Adapun Wujud itu tiga
bahagi:
1. Wujud Haqiqi,
yaitu dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan
maka wujud itu bersifat Qadim dan Baqa’, inilah wujud sebenarnya
2. Wujud Mujazi,
yaitu dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan
tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi
karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala
3. Wujud ‘Ardy, yaitu
dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti
ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain
Adapun yang Mawujud
selain Allah Ta’ala dua bahagi
1. Mawujud dalam
‘alam sahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit,
bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain
2. Mawujud didalam
‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan
nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti
Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain.
Adapun segala yang
Mawujud itu lima bahagi:
1. Mawujud pada Zihin
yaitu ada pada ‘aqal
2. Mawujud pada
Kharij yaitu ada kenyataan bekas
3. Mawujud pada
Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi
4. Mawujud pada Dalil
yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api
5. Mawujud pada
Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia
Ma’rifat kepada Allah Ta’ala
Membicarakan
Wujud-Nya dengan jalan dalil:
1. Dalil yang didapat
dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan
2. Dalil yang didapat
dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan
3. Dalil yang didapat
daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan
4. Dalil yang didapat
daripada Rasulullah tiada dapat didustakan
5. Dalil yang didapat
daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan
Bagian II: Sifat
Salbiyah
Adapun hakikat sifat
Salbiyah itu: wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla,
artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan
tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu lima sifat:
1. QIDAM, artinya
Sedia
2. BAQA’ artinya
Kekal,
3.
MUKHALAFATUHULILKHAWADITS artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang
baharu.
4. QIYAMUHU
BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya.
5. WAHDANIAH, artinya
Esa
1. QIDAM, artinya
Sedia
Adapun hakikat Qidam
ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan,
lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
dikatakan Ia baharu karena jikalau Ia baharu niscaya jadilah Wujud-Nya itu
wujud yang harus, tiadalah Ia wajibal wujud maka sekarang telah terdahulu
wajibal wujud baginya maka menerimalah aqal kita wajib baginya bersifat Qadim
dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: huwal
awwalu, artinya Ia juga yang awal.
Adapun Qadim nisbah
pada nama empat perkara:
a. Qadim Haqiqi,
yaitu dzat Allah Ta’ala
b. Qadim Sifati,
yaitu sifat Allat Ta’ala
c. Qadim Idofi, yaitu
Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak
d. Qadim Zamani,
yaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun
2. BAQA’ artinya
Kekal
Adapun hakikat Baqa’
itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya, yakni tiada kesudahan,
lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal
sekali-kali dikatakan Ia binasa, jikalau Ia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud
yang baharu, apabila Ia baharu tiadalah Ia bersifat Qadim maka sekarang telah
terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib
bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya
dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal dzat
Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.
Adapun yang Kekal itu
dua bahagi:
a. Kekal Haqiqi,
yaitu dzat dan sifat Allah Ta’ala
b. Kekal Ardy, yaitu
kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala,
karena ia sebahagian daripada mumkinun, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah
ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardy, seperti ruh, arasy, kursi, kalam,
lauh mahfudh, surga, neraka, bidadari dan telaga nabi.
3.
MUKHALAFATUHULILKHAWADITSI artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang
baharu
Adapun Hakikat
Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan dzat dan sifat dan af’al
Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu, yakni tiada bersamaan dengan
segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan
segala sesuatu yang baharu. Tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu
bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu,
karena jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Ia bersifat
Qadim dan Baqa’, sebab segala yang baharu menerima hukum binasa, maka sekarang
telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’, maka
menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat
mukhalafatuhulilhawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits, adapun
dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an:
laisa kamislihi syaiin
wa huwassami’ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala
sesuatu dan Ia mendengar dan melihat.
Adapun bersalahan
dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu karena dzat Allah Ta’ala bukan jirim
atau jisim dan bukan jauhar atau ‘aradh dan tiada dijadikan, tiada bertempat,
tiada berjihat, tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau
diperanakkan.
Bersalahan sifat
Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala Qadim dan ‘Aum
takluknya, seperti Sami’ Allah Ta’ala takluk pada segala yang mawujud.
Adapun sifat yang
baharu itu tiada ia Qadim dan tiada ‘Aum takluknya, tetapi takluk pada setengah
perkara jua seperti yang baharu mendengar ia pada yang berhuruf dan bersuara
dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada ia mendengar atau yang jauh atau
yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat
yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala.
Adapun bersalahan
perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan Allah
Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta
tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia.
Adapun perbuatan yang
baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong
dan mengambil faedah.
4. QIYAMUHU
BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya
Adapun hakikat
Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat
berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia, yakni tiada berkehendak
kepada tempat berdiri dan tiada berkehendak kepada yang menjadikannya.
Mustahil tiada
diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendiriNya,
karena Ia zat bukan sifat, jikalau Ia sifat, maka berkehendak kepada tempat
berdiri karena sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya.
Dan tiada berkehendak
kepada yang menjadikan Ia karena Ia Qadim, jikalau berkehendak Ia kepada yang
menjadikan Dia, maka jadilah Ia baharu, apabila ia baharu tiadalah ia bersifat
Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits.
Maka sekarang
menerimalah aqal kita, wajib diterima oleh aqal, bagi Allah Ta’ala itu bersifat
Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya An-laayakuunu ko’imambinafsihi, adapun
dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Innallaha laghniyyun ‘anil ‘alamiin,
artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam.
Adapun segala yang
Mawujud menurut berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang
menjadikan dia itu empat bahagi:
a. Tiada berkehendak
kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri, yaitu
zat Allah Ta’ala
b. Berdiri pada zat
Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yaitu sifat
Allah Ta’ala
c. Tiada berkehendak
kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala
jirim yang baharu
d. Berkehendak kepada
tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘aradh
yang baharu
5. WAHDANIAH, artinya
Esa
Adapun hakikat
Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil (berbilang-bilang atau
bersusun-susun atau berhubung-hubung) dan kammumfasil (bercerai-cerai banyak
yang serupa) pada zat, pada sifat, dan pada af’al.
Lawannya An-yakunu
wahidan, artinya tiada ia esa. Mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali
dikatakan tiada Ia Esa, karena jikalau tiada Ia Esa tiadalah ada alam ini
karena banyak yang memberi bekas.
Seperti dikatakan ada
dua atau tiga tuhan, kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat, dan
kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur, dan kata tuhan yang satu lagi
keluarkan dari utara atau selatan, karena tiga yang memberi bekas. Tentu kalau
tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya umpamanya
disebelah barat, tentu pula tuhan yang lain meniadakkannya dan mengadakan lagi
menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau selatan, karena
tiga-tiga tuhan itu berkuasa mengadakan dan meniadakan maka kesudahannya
matahari itu tiada keluar.
Maka sekarang kita
lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan didalam
alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib
diterima aqal Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya
berbilang-bilang atau bercerai-cerai.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: Qul huwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu
(Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa zat dan Esa sifat dan Esa Af’al.
Adapun Wahdaniah pada
zat menafikan dua perkara:
a. Menafikan
Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti
dikatakan zat Allah Ta’ala itu berdarah, berdaging dan bertulang urat, atau
dikatakan zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat.
b. Menafikan
Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa,
umpama dikatakan ada zat yang lain seperti zat Allah Ta’ala yakni tiada
sekali-kali seperti yang demikian itu.
Maka Kammuttasil dan
Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan pada zat Allah Ta’ala, apabila
sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatuzzat,
yakni Esa dzat Allah Ta’ala.
Adapun Wahdaniah pada
sifat menafikan dua perkara:
a. Menafikan
Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat,
seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’
yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
b. Menafikan
Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa
seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan
Ilmu Allah Ta’ala.
Maka Kammuttasil dan
Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada sifat Allah Ta’ala, apabila
sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah dikatakan Ahadiyyatussifat,
yakni Esa sifat Allah Ta’ala.
Adapun Wahdaniah pada
af’al menafikan dua perkara:
a. Menafikan
Kammuttasil, yaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu
perbuatan, seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan
kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada
tajam memutuskan yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
b. Menafikan
Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi
bekas, seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti
perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.
Maka Kammuttasil dan
Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada af’al Allah Ta’ala, apabila
sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull
af’al, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.
Bagian III: Sifat
Ma’ani
Adapun hakikat sifat
Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu maujudatun qo’imatun bimaujuudatun aujabat lahu
hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada yang maujud (wajibalwujud /
zat Allah Ta’ala) maka mewajibkan suatu hukum (yaitu Ma’nawiyah)
Sifat Ma’ani ini
maujud pada zihin dan maujud pula pada kharij, ada tujuh perkara:
1. QUDRAT artinya
Kuasa, Takluk pada segala mumkinun
2. IRADAT artinya
Menentukan, takluk pada segala mumkinun
3. ILMU artinya
Mengetahui, takluk pada segala yang wajib, mustahil dan ja’iz bagi aqal.
4. HAYAT artinya
Hidup, tiada takluk, tetapi syarat bagi aqal kita menerima adanya sifat-sifat
yang lain.
5. SAMA’ artinya
Mendengar, takluk pada segala yang maujud.
6. BASYAR artinya
Melihat, takluk pada segala yang maujud.
7. KALAM artinya
Berkata-kata
1. Qudrat artinya
Kuasa
Adapun hakikat Qudrat
itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah
Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin muafakat
dengan Iradat-Nya. Adapun arti mumkin itu barang yang harus adanya atau
tiadanya
Adapun mumkin itu
empat bahagi:
a. Mumkin Maujuud
ba’dal ‘adum, yaitu mumkin yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti:
langit, bumi dan kita semuanya.
b. Mumkin Ma’dum
ba’dal wujud, yaitu mumkin yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada,
seperti: nabi Adam as, dan datok-datok nenek kita yang sudah tiada.
c. Mumkin sayuzad,
yaitu mumkin yang akan datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka.
d. Mumkin Ilmu Allah
annahu lamyujad, yaitu mumkin yang didalam Ilmu Allah Ta’ala, tetapi tiada
dijadikan seperti hujan emas, Air laut rasanya manis, dan banyak yang lain
lagi.
Lawannya ‘Ujdzun
artinya lemah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan
Allah Ta’ala itu lemah, karena jikalau Ia lemah niscaya tiadalah ada alam ini
karena yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan. Maka sekarang
alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini, maka
menerimalah aqal kita wajib diterima aqal, bagi-Nya bersifat Qudrat dan
mustahil lawannya ‘Ujdzun.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’in-qodir, artinya Allah
Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.
Tetaplah dalam
Hakikat Qudrat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu
untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat
dan pada af’al Allah Ta’ala.
* Qudrat Allah Ta’ala
Qadim atau sedia, tiada diawali dengan lemah.
* Qudrat Allah Ta’ala
Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan lemah.
* Qudrat Allah Ta’ala
itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci
dari sekalian misal.
* Qudrat Allah Ta’ala
itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong
pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
* Qudrat Allah Ta’ala
itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada
kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
2. Iradat artinya
Menentukan
Adapun hakikat Iradat
itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala
maka dengan Dia menentukan sekalian mumkin adanya atau tiadanya,muafakat dengan
Ilmu-Nya.
Adapun Iradat Allah
Ta’ala menentukan enam perkara:
a. Menentukan mumkin
itu Ada atau tiadanya
b. Menentukan Tempat
mumkin itu
c. Menentukan Jihat
mumkin itu
d. Menentukan Sifat
mumkin itu
e. Menentukan Qadar
mumkin itu
f. Menentukan Masa
mumkin itu
Lawannya Karahat
artinya tiada menentukan atau tiada berkehendak, yaitu mustahil tiada diterima
oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada menentukan atau tiada
berkehendak, karena jikalau tiada Ia menentukan atau tiada Ia berkehendak
mengadakan alam ini atau meniadakan alam ini niscaya tiadalah baharu (Berubah)
alam ini maka sekarang alam ini telah nyata adanya perubahan, ada siang ada
malam, ada yang datang ada yang pergi, seperti yang telah kita lihat dengan
mata kepala kita sendiri, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala
bersifat Iradat dan mustahil lawannya Karahat.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: fa’allu limaa yuriy d’, artinya berbuat Allah
Ta’ala dengan barang yang ditentukan-Nya.
Adapun Iradat dengan
amar dan nahi itu tiada berlazim karena:
Ada kalanya disuruh
tetapi tiada dikehendaki seperti Abu jahal, Abu lahab dan segala pengikutnya.
Ada kalanya disuruh
dan dikehendaki seperti Abu Baqa’r dan segala sahabat yang lain.
Ada kalanya tiada
disuruh dan tiada dikehendaki seperti kafir yang banyak.
Adakalanya tiada
disuruh tetapi dikehendaki seperti mengerjakan yang haram dan makruh seperti
Nabi Adam as dan Hawa.
Tetaplah dalam
Hakikat Iradat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu
untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat
dan pada af’al Allah Ta’ala.
* Iradat Allah Ta’ala
Qadim atau sedia, tiada diawali dengan Karahat.
* Iradat Allah Ta’ala
Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan Karahat.
* Iradat Allah Ta’ala
itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci
dari sekalian misal.
* Iradat Allah Ta’ala
itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong
pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.
* Iradat Allah Ta’ala
itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada
kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
3. Ilmu artinya
Mengetahui
Adapun hakikat Ilmu
itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah
Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil, dan pada
yang harus.
Adapun yang wajib itu
zat dan sifatNya, maka mengetahui Ia zatNya dan sifatNya yang Kamalat.
Adapun yang mustahil
itu yaitu yang menyekutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya maka
mengetahui Ia tiada yang menyekutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan
pada-Nya.
Adapun yang harus itu
sekalian alam ini maka mengetahui Ia segala perkara yang ada pada masa sekarang
ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi
dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun, semuanya
diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim
Lawannya Jahil,
artinya bodoh, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia
Jahil atau bodoh karena jikalau ia Jahil atau bodoh niscaya tiadalah teratur
atau tersusun segala pekerjaan didalam alam ini maka sekarang alam ini telah
teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi
Allah Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh.
Adapun dalilnya firman-Nya
dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, artinya Allah Ta’ala
mengetahui tiap-tiap sesuatu.
Tetaplah dalam
Hakikat Ilmu itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
* Ilmu Allah Ta’ala
Qadim atau sedia, tiada diawali dengan jahil.
* Ilmu Allah Ta’ala
Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan jahil.
* Ilmu Allah Ta’ala
itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci
dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
* Ilmu Allah Ta’ala
itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong
pada sesuatu.
* Ilmu Allah Ta’ala
itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada
kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
4. Hayat artinya
Hidup
Adapun hakikat Hayat
itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala,
maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain.
Lawannya maut artinya
mati, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia mati
karena jikalau Ia mati niscaya tiadalah ada sifat yang lain seperti Qudrat,
Iradat dan Ilmu maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat
hayat dan mustahil lawannya maut.
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyuladzii laa yamuut, artinya Dia yang
Hidup yang tiada mati.
Tetaplah dalam
Hakikat Hayat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
* Hayat Allah Ta’ala
Qadim atau sedia, tiada diawali dengan maut.
* Hayat Allah Ta’ala
Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan maut.
* Hayat Allah Ta’ala
itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci
dari sekalian misal.
* Hayat Allah Ta’ala
itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong
pada sesuatu.
* Hayat Allah Ta’ala
itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada
kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain)
5. Sami’ artinya
Mendengar
Adapun hakikat Sami’
itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah
Ta’ala, maka dengan Dia mendengar segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu
Qadim atau Muhadas.
Adapun mawujud yang
Qadim yaitu dzat dan Sifat-Nya, maka mendengar Ia akan Kalam-Nya yang tiada
berhuruf dan bersuara, dan yang muhadas yaitu sekalian alam ini maka mendengar
Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang
sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada terdinding
pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi.
Lawannya Sumum,
artinya pekak atau tuli yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
dikatakan Ia pekak atau tuli karena jikalau Ia pekak atau tuli niscaya tiadalah
dapat Ia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Ia kepada sekalian
makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’uunii astajib
lakum, artinya mintalah olehmu kepadaKu niscaya Aku perkenankan.
Maka menerimalah aqal
kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil lawannya Sumum, pekak
atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu sami’un ‘alimun,
artinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang mengetahui .
Tetaplah dalam
Hakikat Sami’ itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
* Sami’ Allah Ta’ala
Qadim atau sedia, tiada diawali dengan pekak.
* Sami’ Allah Ta’ala
Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan pekak.
* Sami’ Allah Ta’ala
itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci
dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
* Sami’ Allah Ta’ala
itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong
pada sesuatu.
* Sami’ Allah Ta’ala
itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada
kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
6. Bashir artinya
Melihat
Adapun hakikat Bashir
itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala,
maka dengan Dia melihat segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim
atau muhadas.
Adapun mawujud yang
Qadim itu dzat dan sifat-Nya, maka melihat Ia akan dzat-Nya yang tiada berupa
dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat.
Adapun mawujud yang
muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Ia akan segala perkara yang ada pada
masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang lagi
akan diadakan.
Tiada terdinding yang
pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau sangat kelamnya.
Lawannya ‘Umyun,
artinya buta, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia
buta karena jikalau Ia buta maka jadilah Ia kekurangan. Maka menerimalah aqal
kita wajib bagi Allah Taa’la itu bersifat Bashir dan mustahil lawannya ‘Umyun
atau buta
Adapun dalilnya
firman-Nya dalam AlQur’an: wallahu bashirun bimaa ta’maluun, artinya Allah
Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan.
Tetaplah dalam
Hakikat Bashir itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu
untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat
dan pada af’al Allah Ta’ala.
* Bashir Allah Ta’ala
Qadim atau sedia, tiada diawali dengan buta.
* Bashir Allah Ta’ala
Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan buta.
* Bashir Allah Ta’ala
itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci
dari sekalian misal, dan tiada terdinding.
* Bashir Allah Ta’ala
itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong
pada sesuatu.
* Bashir Allah Ta’ala
itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada
kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
7. Kalam artinya
Berkata-kata
Adapun hakikat Kalam
itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala,
maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam annahu
laailahaillalah, artinya ketahui oleh mu bahwasanya tiada tuhan melainkan
Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana fiyhima
alihatun illallah lafasadatu, artinya jikalau ada tuhan yang lain selain
daripada Allah maka binasalah segala-galanya. dan berkata pada yang harus
dengan firman-Nya: wallahu holaqokum wamaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala jua
Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.
Lawannya Bukmum,
artinya kelu atau bisu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
dikatakan Ia bisu atau kelu karena jikalau Ia bisu atau Kelu tiadalah dapat Ia
menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara seperti hari kiamat,
syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan cegah itu ada pada kita
seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat ma’siat. Maka menerimalah
aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam dan mustahil lawannya
bukmum, kelu atau bisu. Adapun dalilnya friman-Nya dalam Al Qur’an: wa
kallamallaahu muusa taqlimaan, artinya berkata-kata Allah Ta’ala dengan nabi
Musa as dengan sempurna kata.
Adapun Kalam Allah
Ta’ala itu satu sifat jua tiada Ia berbilang tetapi berbagi-bagi dipandang dari
segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Ia menunjukkan kepada suruh maka
dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain, jika Ia menunjukkannya
kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti cegah berjudi., minum
arak dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada cerita dinamakan akhbar, seperti
cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. jika Ia menunjukkan pada khabar
gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang beriman dan ta’at dan
lian-lain, jika Ia menunjukkan pada khabar menakutkan maka dinamakan Wa’id,
seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir.
Tetaplah dalam
Hakikat Kalam itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk
menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan
pada af’al Allah Ta’ala.
* Kalam Allah Ta’ala
Qadim atau sedia, tiada diawali dengan kelu.
* Kalam Allah Ta’ala
Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan kelu.
* Kalam Allah Ta’ala
itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci
dari sekalian misal, tiada terdinding dan tiada berhuruf atau bersuara.
* Kalam Allah Ta’ala
itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong
pada sesuatu.
* Kalam Allah Ta’ala
itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada
kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).
Bagian IV: Sifat
Ma’nawiyah
Adapun hakikat sifat
ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati mu’allalati
bi’illati, artinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu dikarenakan
suatu karena yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat maka baru
dinamakan dzat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun
sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antar sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah,
tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula:
1. QADIRUN, artinya
Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat
2. MURIIDUN, artinya
Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat
3. ‘ALIMUN, artinya
Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat
4. HAYYUN, artinya
Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat
5. SAMI’UN, artinya
Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat
6. BASIRUN, artinya
Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat
7. MUTTAKALLIMUN,
artinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat
Bagian V: Sifat
Istighna
Artinya sifat Kaya, Hakikat
sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, artinya Kaya Allah Ta’ala
itu daripada tiap-tiap yang lain.
Apabila dikatakan
Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya bersifat
dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11)
sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap
yang lainnya.
Adapun sifat wajib
yang 11 itu ialah:
Wujud, Qidam, Baqa’,
Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Kiyamuhubinafsihi, Sami’, Basir, Kalam, Sami’un,
Basirun dan Muttakalimun.
Selain sebelas (11)
sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus (Jaiz) yang termasuk pada
sifat Istighna yaitu
1. Mahasuci dari pada
mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya mengambil
faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau
mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya karena lazim
diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya
2. Tiada wajib Ia
menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal
sekali-kali karena jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya
daripada tiap-tiap yang lainnya, karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada
yang menyempurnakan-Nya
3. Tiada memberi
bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu
mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu
daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya
karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh
Bahagian VI: Sifat
Ifthikhor
Artinya sifat
berkehendak: hakikat sifat Ifthikhor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu,
artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.
Apabila dikatakan
berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan
sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini
maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,
Adapun sifat wajib
yang sembilan (9) itu adalah:
1. Qudrat
2. Iradat
3. Ilmu
4. Hayat
5. Qodirun
6. Muridun
7. ‘Alimun
8. Hayyun
9. Wahdaniah
Selain dari sembilan
(9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada sifat
Ifthikhor:
1. Baharu sekalian
alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali
karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya
kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derejat-Nya
2. Tiada memberi
bekas sesuatu daripada kainatnya dengan tobi’at atau dzatnya. Lawannya memberi
bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau
memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah
berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya karena lajim ketika itu terkaya
sesuatu daripadaNya.
Maka sekarang telah
nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh dua
(22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) ‘akaid yang terkandung
didalam kalimah laa ilaha ilallaah, maka jadilah makna hakikat laa ilaha
ilallaah itu dua: laa mustaghniyun angkullu maasiwahu, artinya tiada yang kaya
dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu, artinya
dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.
Ini makna yang
pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):
1. Wajibal wujud,
yaitu yang wajib adanya.
2. Ishiqoqul ibadah,
yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah
3. Kholikul ‘alam,
yaitu yang menjadikan sekalian alam
4. Maghbudun bihaqqi,
yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.
Ini makna yang kedua
maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu:
Laa ilaha ilallaah,
Laa ma’budun ilallah, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya
melainkan Allah.
Ini makna yang ketiga
penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi dan
isbat
Adapun yang dinafikan
itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang lain dengan
mengatakan: laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu
berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah
Laa = nafi, Ilaha =
menafi, ila = isbat, Allah = meng-isbat
Yang kedua kalimah
laa ilaha ilallaah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi sepeti
sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal-isbati wamamfarroqu bainahumaa fahuwa
kaafirun, artinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa
menceraikan kafir.
Seperti
asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap
tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah
artinya nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan
tiada bersekutu.
B.
Hubungan antara ilmu
Akhlak, Tasawuf, Tauhid, Jiwa, Pendidikan dan Filsafat
Hubungan antara ilmu
akhlak dengan ilmu Tasawuf, ilmu
Tauhid, ilmu Jiwa, ilmu Pendidikan dan ilmu Filsafat
beserta keterkaintannya antara satu sama lain sebelumnya sudah saya bahas,
dengan judul : Hubungan ilmu Akhlak dengan Tasawuf, Hubungan ilmu Akhlak
dengan Tauhid, Hubungan ilmu Akhlak dengan Pendidikan , Hubungan ilmu
Akhlak dengan Jiwa , Hubungan ilmu Akhlak dengan Filsafat, namun kali
ini saya ingin membuat kesimpulannya waktu pelajaran mata kuliah agama 4 atau
akhlak dari makalah .
berikut kesimpulannya
dan sobat bisa baca selengkapnya melalui link yang ada di bawah :
1. Hubungan antara
Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf sangat erat kaitannya.Dalam mempelajari ilmu
tasawuf ternya al-Qur’an dan al-hadis mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan
al-hadis menekankan kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan,
keadilan, tolong –menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka,
berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat,
menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berpikir lurus. Nilai-nilai
serupa ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim, dan dimasukkan kedalam
dirinya dari semasa ia kecil.
2. Hubungan antara
keimanan yang dibahas dalam Ilmu tauhid dengan perbuatan yang dibahas dalam
Ilmu Akhlak. Ilmu tauhid tampil dalam memberikan landasan terhadap ilmu akhlak,
dan ilmu akhlak tampil dengan memberikan penjabaran dan pengalaman dari Ilmu
Tauhid. Tauhid tampa akhlak yang mulia tiada artinya, dan akhlak yang mulia
tampa tauhid maka tidak akan kokoh. Selain itu tauhid memberikan arah terhadap
akhlak, dan akhlak memberi isi terhadap arahan tersebut.
3. Ilmu Jiwa membahas tentang gejala-gejala
kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku. Melalui ilmu jiwa dapat diketahui
psikologis yang dimiliki seseorang. Jiwa yang bersih dari dosa dan maksiat
serta dekat dengan Tuhan, misalnya akan melahirkan perbuatan sikap yang
enangpula, sebaliknya jiwa yang kotor, banyak berbuat kesalahan dan jauh dari
Tuhan akan melahirkan perbuatan yang jahat, sesat dan menyesatkan orang lain
4. Tujuan pendidikan
ini dalam pandangan Islam banyak berhubungan dengan kualitas mansuia yang
berakhlak. Ahmad D. Marimba misalnya mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah
identik dengan tujuan hidup seorang muslim, yaitu menjadi hamba Allah yang
mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya. Sementara itu
Mohd. Athiyah al-Abrasyi, mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti adalah
adalah jiwa dari pendidikan islam, dan islam telah menyimpulkan bahwa
pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu
akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Selanjutnya
al-Attas mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik.
Kemudian Abdul fatah jalal mengatakan bahwa tujuan umum pendidikan Islam ialah
terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.
5. Dengan mengetahui berbagai ilmu yang
berhubungan dengan ilmu akhlak tersebut, maka seseorang yang akan memperdalam
Ilmu Akhlak, perlu pula melengkapi dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan
yang disebutkan di atas. Selain itu urian tersebut di atas menunjukkan dengan
jelas bahwa Ilmu Akhlak adalah ilmu yang sangat akrab atau berdekatan dengan
berbagai permasalahan lainnya yang ada disekitar manusia.
demikian pembahasan mengenai keterkaitan Ilmu
akhlak,Tasawuf ,Tauhid ,Jiwa ,Pendidikan dan filsafat, semoga dapat bermanfaat
.